Rabu, 18 November 2015

Salah satu oleh-oleh KKN

I think she is one of the inspiring women in Bantul. She was a teacher at a kindergarten in Bantul and also teaches at playgroup "Wortel". When we first met, I was embarrassed and thought she was the one formal and serious. But once know, it turns out she was very friendly, humble, sociable, playful, caring, and anyway she was very good-natured person. Even though she was married, she could mingle with us. Once a night I visited her home to discuss the Kartini day event. I feel comfortable there. Although not previously been known, but I felt close like sisters. I remember, at that time we were alone, we talked a lot about the concept of the event to personal issues like a boyfriend. Well, because that night we talked with a boy in my phone. Somehow I'm not embarrassed to talk about a boy with others. Perhaps because she is a wonderful companion that makes me feel good to vent. And I remember, She gave me a dragon fruit juice, one of my favorite juice. She is the one who is always cheerful, spirit, and has a lot of interesting things that can be learned from her. Actually, she comes from Medan so the Javanese language is not fluent, but she's trying to learn and use though sometimes sound funny. One afternoon, we had to give an invitation to the kartini day. We walked down the aisles, and past the houses of citizens. Even until night, we were delighted. Silly thing was when we met with meatballs itinerant seller, and finally we eat together in the middle of the road, and it was fun. The next exciting thing is the next night, when the four of us shop equipment kartini day. We must speeding street to meet the manufacturer's trophy. After that, we shop and go home. When the till in the basecamp, other friends had gone home. O God, the three of us but only had a motorcycle . Finally She lent her  motorcycle to my friend. I last met her  the time of Eid yesterday. Again she invited us to eat meatballs. Want to mess with you, Ms. Rahma and you friends, but for the moment we are busy on our own . May we always be healthy, and could meet again …

Selasa, 02 Juni 2015

Kenapa Harus Jadi Secret Admirer?

“Ehem…”, suara Bu Herna mengagetkan Lila. Gadis yang sedang memandangi seseorang yang sedang shalat sunah dari sela-sela jendela pun tersipu malu dan menjadi salah tingkah. Segera Lila melanjutkan menyapu serambi masjid yang tinggal sedikit lagi. “Baru sendiri ya mbak? Teman-temannya kemana?”, tanya Bu Herna sambil tersenyum melihat Lila yang terkejut oleh suaranya. “Eh, emm.. baru sendiri Bu”, jawab Lila dengan gugup.
Setelah selesai menyapu, Lila segera bergegas mencuci tangan dan berwudu. Lila duduk-duduk di serambi menunggu teman-temannya, Nova, Tyas, dan Fitria yang biasanya beramai-ramai menjemputnya untuk shalat magrib berjamaah di masjid. “Lilaaa….”, suara Nova membangunkannya dari lamunan. “Woii…. ngelamun aja kamu Lil, pasti ngelamunin Kak Nuu….”, belum selesai Tyas berkata Lila langsung menutup mulut Tyas.
“Huus, jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Kalian ini ngagetin aja. Baru datang tu ngucapin salam kek, eh malah ngagetian aku”,sungut Lila.
“Oke deh, Assalamualaikum mbak Lila yang cantik”, seru Fitria sambil tertawa kecil. “Makanya jangan ngelamun mulu”, timpal Tyas.
 “Waalaikumussalam Mba Fitria, kalian dari mana aja sih? Aku kan nungguin kalian. Hiks,hiks”, kata Lila sambil memanyunkan bibir.
“Maaf deh, kami kan pulangnya sore. Kamu sih dulu gak mau satu kampus sama kita-kita, jadi gak bisa sering bareng deh.”
“Oke, oke, fix, masuk yuk, keburu Qomat nih”
“Keburu Qomat atau keburu yang lain”, goda Tyas yang membuat Lila menjadi salah tingkah.
“Maksudnya?”
“Yah, ngliatin cowok impianmu, hahaha”. Tyas dan kedua temannya itu berlari untuk menghindari hadiah cubitan dari Lila seperti biasanya ketika mereka menggoda Lila.
“Tyaaaas….!!!”Lila mengejar teman-temannya yang lari masuk ke masjid. Wajahnya memerah karena terus digoda teman-temannya. Apalagi ketika Nugi, seseorang yang diperhatikannya ketika sedang shalat tadi menoleh kearahnya. Dadanya dagdigdug tak menentu. Mukanya makin memerah, Lila pun tetunduk malu. Nugi melirik jam yang terpajang di dinding Masjid. Kemudian, beranjak dari duduknya dan mengumandangkan Iqomat. Keempat gadis itu pun mengikuti shalat magrib berjamaah dengan khusyu.
Satu per satu jamaah meninggalkan masjid. Jamaah perempuan tinggal mereka berempat dan juga Bu Herna. Nugi juga pulang dengan adik laki-lakinya yang bernama Radit. Sebelum pulang biasanya Lila dan ketiga temannya duduk-duduk sebentar di serambi masjid. Ketika mereka sedang asyik ngobrol, Bu Herna keluar dan meminta Lila untuk menemaninya ngobrol. “ Mbak Lila, keburu pulang nggak? Kalau enggak, bisa temani ibu di sini ?”
“Tentu bisa Bu, iyakan Lila?”, seru Tyas.
“Heee, bi.. bisa Bu”, sahut Lila Gugup.
“Oiya Lila, maaf ya kami ada urusan. Jadi, kami pulang duluan ya. Mari Bu Herna. Assalamualaikum”, kata Tyas diikuti Nova dan Fitria.
Lila menjadi grogi. “Teganya teman-temanku yang meninggalkanku berdua dengan Bu Herna. Padahal mereka tahu, Bu Herna itu tak lain dan tak bukan adalah ibunya Kak Nugi yang selama ini aku kagumi. Mati deh aku. Lila… stay cool… jangan nunjukin kalau kamu lagi grogi”, kata Lila dalam hati.
“Mbak Lila,kok bengong?”, sapa Bu Herna dengan tersenyum.
“Eh,ya Bu,enggak kok. Ada yang bisa saya bantu?”
“Emm, begini. Meski kita nggak terlalu dekat, boleh enggak Ibu curhat. Ini masalahnya menyangkut anak saya. Kalau saya cerita dengan anak yang masih muda mungkin bisa sharing apa yang biasanya diinginkan anak muda, hemm”, kata Bu Herna memulai obrolannya. Bu Herna pun bercerita panjang lebar tentang dua anak laki-lakinya. Lila pun tahu kedua anaknya itu memang super pintar. Nugi orangnya memang agak tertutup. Apalagi jika menyangkut tentang pacar. Tiap kali ditanya soal pacar, Nugi selalu menjawab, “Untuk saat ini saya lebih suka memikirkan bagaimana saya bisa membuat robot Bu”. Jawaban itulah yang terkadang membuat Bu Herna sedih. Di satu sisi Bu Herna senang dengan sikapnya itu Nugi akan fokus dalam kuliah tidak akan berbuat macam-macam. Akan tetapi, di sisi lain Bu Herna khawatir jika anaknya hanya akan tertarik dengan hobbinya saja dan tidak memikirkan pendamping hidup.
“Mbak Lila sendiri sudah punya pacar belum?”. Pertanyaan Bu Herna itu sontak membuat Lila kaget.
“Hee, belum Bu”, jawab Lila sambil meringis. Dalam hati dia berkata, “ Putramulah yang aku dambakan selama ini Bu, hiks”.
“Oh iya, kemarin Ibu menemukan block note  ini”, kata Bu Herna. Tangannya mengeluarkan block note kecil warna hijau dari tas tangannya. “Kemarin ibu menemukan ini dipojok situ. Ibu pikir ini punya Mbak Lila, karena tertulis disitu namanya Khalila”, kata Bu Herna seraya menyerahkannya kepada Lila.
“Hee, iya Bu terima kasih. Mungkin kemarin jatuh ketika saya mampir shalat di sini.”
“Puisinya bagus lho, maaf Ibu kemarin membacanya.”
“Heehehe”, Lila tersenyum dan tertunduk. “Andai Bu Herna tahu, itu puisi buat Kak Nugi”, katanya dalam hati. Dibukanya block note itu, dibacanya puisi yang sudah seminggu ditulisnya itu. Beginilah puisi yang ditulisnya itu.

Seindah Bunga Mawar

Mawar, rupamu nan menawan, aromamu nan menggoda,
slalu beri ku rasa nyaman
Mawar, kau elok tampak mencolok, jelita bak bunga firdaus
Mawar, kau gagah dengan duri pelindung,
kau lembut dengan wangi yang menyanjung
Mawar, rautmu nan ceria, penghilang hati nan lara.peluruh jiwa nan murka,
Mawar, kau pemikat kalbu, memandang mu tak pernah buat ku jemu
Mawar, cantikmu menggelitik, selalu membuat hati ingin melirik
Mawar, ku suka kau tanpa cela, tak pernah ku pandang kau sebelah mata
Mawar, kau pantas jadi idola bagi semua insan yang bermata
Mawar disini ku rasa hina, melihatmu sebagai sosok yang sempurna
Mawar aku hanyalah seekor kepik, makhluk kecil, tak berdaya pun menarik
Mengagumimu sbagai anugrah dari Yang Satu
tlah buat ku bersyukur karna bisa memandangimu
Mawar, tak pernah sedikitpun ku coba tuk mengganggu
meski mungkin kau tak suka kehadiranku
Mawar, engkau sangatlah menarik, tetapi engkau tak mudah jua tuk dipetik
Ku ingin slalu ada di sekitarmu, meski tiada nyali tuk dekatimu
Mawar, durimu sangat tajam, aku takut runcingnya kan menghujam
Kau makhluk indah nan perkasa,
sedang aku makhluk kecil yang tiada sempurna
Mawar, waktu tlah berlalu, tapi wajahmu tak sedetikpun enyah dari benakku
suaramu slalu terngiang di telingaku,
dan aromamu slalu tercium di sekelilingku
Mawar, ku takut kau membenciku
meski mungkin kau juga tak pernah mau tuk mengenalku
Mawar, sempat ku merasa iri melihat kupu-kupu nan elok berseri
beterbangan, hinggap tuk mengambil sari
Mawar, aku memang tak secantik kupu-kupu,
sayap lebar tuk mengepak pun merayu
Mawar, ku suka kau semenjak dulu, kala itu baru pertama kita bertemu
Kini, masa tlah bergulir, menggiring ku bersama angin yang semilir
Semua tlah berbeda, tapi bayang mu tak segera hilang jua
Ingin ku lupakan dirimu wahai juwita, namun hati tlah terkunci,
kau penuhi relung ini, namamu pun tlah kuat terpatri,
tak sanggup ku hapus meski ku ingin, tak bisa ku lupa meski ku tlah berusaha
Yang bisa ku lakukan kini, terbang menjauh meski slalu ingin kembali
Mawar, kini ku acuh padamu, memang itu tak ku ingkari
tapi begitu bukan berarti ku tak peduli
karena sebenarnya mawar, aku hanya ingin menjaga agar hatiku tiada berlari
Mawar, meski kini kau tak tahu, bahkan sampai nanti kau tak akan pernah tahu
Ku kan slalu menjadi pengagummu
meski banyak kupu-kupu cantik,
meski banyak kumbang-kumbang mengelilingimu, aku akan slalu menunggu
meski embun tak lagi menyapaku di pagi hari
dan meski pelangi tak lagi tersenyum padaku kala hujan terhenti
Waktu shalat isya hampir tiba. “Assalamualaikum, boleh kami bergabung?”, Tyas, Fitria, dan Nova pun bergabung dengan Lila. Nugi datang. Keempat dara itu langsung masuk dan duduk tenang di saf paling belakang. Setelah shalat isya, mereka berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.
Malam itu malam minggu. Lila duduk dekat jendela kamarnya. Matanya tampak asyik melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Bintang-bintang itu seolah saling bertaut membentuk wajah Nugi di angkasa. “OMG, lupa aku,”tiba-tiba Lila teringat bahwa dia pernah menulis nama lengkap Nugi di block notenya. Lila segera mengambil dan mencari tulisan itu di block notenya. Lila kaget ketika menemukan tulisan yang berbeda dari tulisannya di bawah nama “Irawan Nugi Pratama”. “Tulisan siapa ini?” pikirnya.
“Kepik cantik, kenapa kau tak pernah hinggap di kelopakku. Aku bosan dengan kupu-kupu di sekelilingku. Kau tahu? Mereka datang hanya untuk mengambil sari bungaku. Setelah ku layu mereka tak pernah memanggil embun untuk memberiku kesejukan. Ku tunggu kau tuk terbang dan hinggap padaku. Terimakasih tlah mengenang namaku di block notemu ini. Sampai jumpa di subuh  nanti. Salam sewangi mawar J”.
“Aaaaa… ini dari siapa? Beneran ini dari Kak Nugi? OMG… aaaaa. Haduh gimana besok. Shalat subuh ke masjid nggak ya? Jadi deg-degan”. Lila senang sekali. Tetapi dia juga bingung kalau ketemu malu tapi kalau enggak rindu. “Berarti Bu Herna udah tahu semuanya dong, aaaaaa mau taruh mana nih mukaku kalau ketemu”.
Keesokan harinya, Lila tidak shalat berjamaah di masjid. “Dari pada salah tingkah lebih baik menghindar dulu”, pikirnya. Meskipun hari minggu, Lila pergi ke kampus untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh HIMA. Tetapi belum jauh Lila berangkat, motor yang dikendarainya oleng. Ternyata bannya bocor. Lila mendorong motornya ke bengkel terdekat tetapi sudah banyak yang antre di sana. Lila yang mulai lelah, beristirahat sembari menunggu. “Ehem.., butuh tumpangan dek?” tiba-tiba Nugi muncul di bengkel itu. Lila kaget banget. “Eh.. he.. eng..enggak kok Kak. Makasih!’, jawabnya sambil tersenyum.
“Beneran?”
“Bener Kak, iya Lila nunggu aja.”
Nugi pun berangkat. Lila menyesal kenapa tadi menolak ajakan Nugi. Padahal ini kesempaan bisa dekat sama Nugi. Tetapi tak lama kemudian Nugi kembali lagi. Sepertinya ada barang yang ketinggalan di rumah. Sekali lagi Nugi menghampiri Lila dan menawar tumpangan.
“Dek, bener nih nggak mau bareng? Udah keburu siang loh. Lihat tuh antrenya masih banyak.”
“Iya sih, udah siang. Tapi nggak deh, nanti nggak bisa pulang malahan”.
“Emang pulang jam berapa?”
“Jam 2 mungkin Kak”.
“Kebetulan, aku jam 1 kelar. Tenang aja nanti aku jemput deh,”
“Ah, nanti malah ngerepotin lagi”.
“Nggak papa. Ayo buruan”.
“Hee, ya udah deh”.
“Pak motornya saya tinggal ya, nanti sore saya ambil. Assalamualaikum”, kata Lila kepada pemilik bengkel.
Lila merasa bahagia sekali pagi itu. Tak pernah menyangka dia bisa sedekat itu dengan orang yang di kaguminya selama ini. “Hati-hati Nug, jangan ngebut ya”. Lila kaget dan tersipu melihat Bu Herna yang sedang beli sayuran di seberang jalan. “Siap, Bu. Assalamualaikum…”. Nugi melajukan motornya dengan lincah. Lila hanya terdiam dan sesekali membenahi tas gendongnya yang dijadikan pembatas antara dirinya dengan Nugi. Jantungnya berdebar-debar. Lidahnya seperti kelu, tak dapat berkata-kata.
“Ohiya dek, kok tadi enggak ke masjid?”
“Hee, iya.”
“Ngomong-ngomong, puisinya bagus lho.”
“He, biasa aja kok Kak.”
“Kira-kira siapa tuh yang jadi mawar? Beruntung banget dirindu sama kepik.” Lila semakin terdiam, dia malu banget dan bingung harus menjawab apa. “Dek, sekarang kok beda. Biasanya kalau ketemu ramah banget, tapi kok akhir-akhir ini cuek ya. Aku ada salah sama kamu ya?”
“Enggak kok Kak, Lila Cuma malu aja. Lila takut aja”.
“Emang aku menakutkan? Aku gak suka makan orang kok, heheheh”, kata Nugi samba tertawa kecil.
“Yah semua orang kan tahu Kak Nugi itu perfect, selalu jadi juara di setiap perlombaan. Selain itu, kakak kan terkenal alim lagi. Ibu juga dosen, adiknya apalagi. Pinteerr banget. Oiya, selamat ya kak adeknya kemaren nyabet Emas kan di OSN. Lila jadi minder. Apalagi kakak kadang kelihatan cuek gitu, Lila inikan hanya mahasiswa biasa aja, jadi smakin takut mau berteman.”
“Ahahaha, kamu itu lucu dek, jadi itu yang bikin kamu berubah. Denger ya, aku nggak pernah gitu kok sama orang lain. Yah, mungkin bagi orang lain yang belum kenal sama aku pasti juga bakal ngomong gitu. Tapi sebenernya enggak. Tanya aja sama temen-temenku. Akulah mahasiswa paling ramah sekampus, hehehe. Bercanda, jadi sombongkan malahan. Lagian ya, membeda-bedakan orang saat berteman itu menurutku kayak anak kecil aja. Belum dewasa gitu. Kalau sudah bisa berpikir dewasa kan pasti akan menganggap segala perbedaan itu sebagai suatu keragaman. Jika kita saling menghormati dan menghargai satu sama lain, menurutku IT”S OK. Jadi kamu jangan pernah merasa begitu. Kalau minder sama orang-orang yang lebih sukses kan berarti juga membeda-bedakan juga dalam berteman. Setiap orang itukan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kita tidak bisa menuntut persamaan dari orang lain. Jelaskan adik kecil? Nah, satu lagi nih dek, kalau suka sama seseorang tuh ungkapin aja, kenapa harus jadi secret admirer? Hihihi,” kata Nugi sambil tertawa.
“Ah kakak ngatain aku kecil, nggak sadar apa kalau kakak juga kecil, uuu…”, sugut Lila.
“Hehehe, iya.iya, maaf dek Lila”.
“Lagian siapa juga yang jadi secret admirer? Heeee”. Lila merasa bahagia sekali hari itu. Mulai saat itu Lila bertekat menghilangkan perasaannya yang suka rendah diri dengan orang-orang yang lebih sukses darinya. Malah bergaul dengan orang-orang sukses bisa memacu semangat untuk selalu belajar Dan berusaha meraih kesuksesan pula. Lila juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membeda-bedakan teman dalam bergaul.

Rabu, 05 November 2014

“Akeelah and The Bee”



Biarkan Potensimu Menerangi  Dunia

Film “Akeelah and The Bee” merupakan salah satu film keluarga yang sangat memotivasi. Film ini mengisahkan perjuangan Akeelah Anderson, seorang anak berusia 11 tahun dalam mengikuti spelling bee (suatu perlombaan mengeja kata dalam bahasa Inggris). Akeelah adalah seorang anak perempuan berkulit hitam yang bersekolah di salah satu distrik di negara bagian Los Angeles, Amerika Serikat. Ayahnya meninggal ketika Akeelah masih balita. Ibunya bekerja di sebuah rumah sakit dan terlalu sibuk untuk mengurus keempat anaknya. Ibu Akeelah sangat otoriter terhadap anak-anaknya, sangat ketat dan tidak pernah mendengarkan keluh kesah mereka. Akeelah merasa tidak pernah dihargai. Oleh karena itu, Akeelah tumbuh tanpa rasa percaya diri. 
Sumber gambar:
Di sekolah, Akeelah merupakan siswa yang cerdas. Kepergian ayahnya membuat Akeelah sedih dan menangis sepanjang hari. Sejak saat itu Akeelah mulai belajar mengeja dan terus mengeja untuk menghibur diri.   Itulah mengapa Akeelah Selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran Bahasa Inggris, terutama untuk spelling (mengeja). Namun lingkungan sekolah yang minim fasilitas dan teman-teman yang selalu ingin memanfaatkan dirinya membuat Akeelah merasa tidak nyaman. Sehingga, Akeelah seringkali membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada bidang apapun.
Suatu hari, Kepala sekolah merekomendasikan Akeelah untuk mengikuti spelling bee. Pada awalnya Akeelah tidak berminat dengan perlombaan tersebut meskipun kepala sekolah telah membujuknya. Namun, berkat bujukan dan dorongan dari sang kakak akhirnya Akeelah mau mengikuti audisi perlombaan tersebut. Kepala sekolah memperkenalkan Akeelah dengan Dr. Joshua Larabee, ketua Departemen Bahasa Inggris di UCLA.  Dr.Larabee mengetahui bahwa Akeelah memiliki potensi yang bagus dalam mengeja. Dr.Larabee yakin jika terus berlatih, Akeelah mampu untuk maju ke perlombaan tingkat nasional. Dr.Larabee lah yang mampu menumbuhkan percaya diri Akeelah dan menjadi pelatihnya.
Akeelah berjuang dengan keras untuk dapat memenangkan perlombaan. Akeela harus menghafal dan mengeja sekitar 5000 kata untuk mempersiapkan perlombaan di tingkat nasional. Akeela sempat dijauhi sahabat baiknya karna dianggap terlalu sibuk mengeja dengan teman-teman barunya. Akeela juga sempat terpuruk karena Dr. Laarabee sempat berhenti melatihnya. Ibu Akeela yang sempat melarangnya mengikuti perlombaan pun memberikan motivasi dan menawarkan diri untuk menjadi pelatih. Ibunya juga mengatakan bahwa Akeelah tidak hanya bisa mendapatkan seorang  pelatih, akan tetapi 50.000 pelatih dapat didapat dari orang-orang di sekelilingnya. Dari perjuangan keras dan bantuan Dr.Larabee, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya,  serta Javier dan Dylan, dua anak dari sekolah swasta yang juga lolos dalam audisi di tingkat distrik, akhirnya Akeelah berhasil menjadi pemenang spelling bee tingkat nasional  di tahun itu bersama-sama dengan Dylan.
Menurut Gardner, setiap orang memiliki multiple intelligences (beberapa kecerdasan), antara lain kecerdasan linguistic, logic matematik, kinestetik, visual spasial, naturalis, musical, interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Hal itu bearti bahwa setiap orang memiliki potensi yang sama untuk menjadi sukses. Akan tetapi, tidak semua orang dapat mengetahui potensi atau kecerdasan apa yang menonjol dari dirinya, apa kelebihan, dan apa kekurangannya. Orang yang dapat mengetahui potensi dirinya sendiri pun tidak semua bisa  mendapat kesempatan untuk memanfaatkan potensi tersebut. Bahkan, tidak sedikit orang yang memiliki kesempatan, tetapi tidak mau memanfaatkan kesempatan itu dengan berusaha lebih giat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sebagian orang merasa takut untuk mencoba mengembangkan potensinya. Mereka takut membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu yang lebih, terlalu takut dengan risiko yang harus ditanggung jika gagal melakukannya, maupun takut dengan pandangan orang terhadap dirinya. Padahal jika mau, seseorang mampu untuk melakukan semua hal yang diinginkan. Seperti pepatah “dimana ada kemauan di situ ada jalan”. Jika seseorang giat dan berusaha dengan sebaik-baiknya, maka apapun yang dicita-citakan akan dapat diraih, dan mimpi-mimpi pun akan menjadi kenyataan. Jika seseorang mau mengasah potensi yang dimiliki sebaik-baiknya maka akan menghasilkan prestasi yang luar biasa.
Keberhasilan seorang anak tentu tidak lepas dari bantuan orang-orang di sekitarnya. Seperti Vygotsky yang berpendapat bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini, orang-orang terdekat sangat mempengaruhi apakah anak akan berkembang atau tidak. Semakin dini anak distimulasi dan didorong, maka anak akan semakin dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Akeelah yang sejak balita mulai mengeja, sadar bahwa dirinya memiliki potensi atau kecerdasan berbahasa yang sangat baik terutama dalam mengeja. Namun karena lingkungannya yang kurang mendukung dan tidak peduli membuat Akeela tidak percaya diri untuk mengikuti spelling bee. Teman-temannya selalu mengejek dan mengatakan bahwa Akeelah tak sepintar orang-orang yang berkulit putih. Bahkan ibunya pun melarang Akeela untuk mengikuti perlombaan tersebut. Akan tetapi, dengan kutipan yang dikenalkan oleh Dr. Laarabee mampu menumbuhkan percaya diri Akeela. Apalagi setelah berhasil lolos di tingkat distrik, Akeelah semakin sadar bahwa dia memiliki potensi yang luar biasa. Dengan berusaha keras dan dukungan yang didapat dari orang-orang di dekatnya Akeelah membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi pemenang. Akeelah membuktikan bahwa orang berkulit hitam pun memiliki potensi yang sama dengan orang-orang berkulit putih. Setiap orang memiliki potensi yang sama untuk menjadi pemenang tanpa mengenal warna kulit maupun suku bangsa.
Kutipan yang sangat menarik dalam film “Akeelah and The Bee (2006)”, ini adalah:
 “Our deepest fear is not that we are inadequate
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure
We ask our selves, ‘Who am I to be brilliant, gorgeous, talented and fabulous?’
Actually, who are you not to be?
We were born to make manifest, the glory of God that is within us
And as we let our own light shine, we unconsiously give other people permission to do the same.”
Hal ini berarti bahwa kita diberkahi oleh Tuhan dengan potensi yang luar biasa. Kita ingin menjadi seperti apa, kita sendiri yang menentukannya. Kemampuan bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Kita memiliki kesempatan yang sama  untuk melakukan sesuatu. Jika kita tidak takut untuk mencoba, maka kita mampu melakukan apapun yang kita inginkan. Jika kita mau berusaha, kita bisa menjadi orang yang brilian, cantik, berbakat, dan menjadi orang hebat. Oleh karena itu, seperti halnya Akeela, marilah kita kembangkan potensi yang kita miliki, manfaatkan kesempatan yang ada, dan tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa. Potensi membuatmu bersinar, dan biarkan sinarmu menerangi dunia. Let your own light shining the world!