“Ehem…”,
suara Bu Herna mengagetkan Lila. Gadis yang sedang memandangi seseorang yang
sedang shalat sunah dari sela-sela jendela pun tersipu malu dan menjadi salah
tingkah. Segera Lila melanjutkan menyapu serambi masjid yang tinggal sedikit
lagi. “Baru sendiri ya mbak? Teman-temannya kemana?”, tanya Bu Herna sambil
tersenyum melihat Lila yang terkejut oleh suaranya. “Eh, emm.. baru sendiri
Bu”, jawab Lila dengan gugup.
Setelah
selesai menyapu, Lila segera bergegas mencuci tangan dan berwudu. Lila
duduk-duduk di serambi menunggu teman-temannya, Nova, Tyas, dan Fitria yang biasanya
beramai-ramai menjemputnya untuk shalat magrib berjamaah di masjid. “Lilaaa….”,
suara Nova membangunkannya dari lamunan. “Woii…. ngelamun aja kamu Lil, pasti
ngelamunin Kak Nuu….”, belum selesai Tyas berkata Lila langsung menutup mulut
Tyas.
“Huus,
jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Kalian ini ngagetin aja. Baru datang tu
ngucapin salam kek, eh malah ngagetian aku”,sungut Lila.
“Oke
deh, Assalamualaikum mbak Lila yang cantik”, seru Fitria sambil tertawa kecil.
“Makanya jangan ngelamun mulu”, timpal Tyas.
“Waalaikumussalam Mba Fitria, kalian dari mana
aja sih? Aku kan nungguin kalian. Hiks,hiks”, kata Lila sambil memanyunkan
bibir.
“Maaf
deh, kami kan pulangnya sore. Kamu sih dulu gak mau satu kampus sama kita-kita,
jadi gak bisa sering bareng deh.”
“Oke,
oke, fix, masuk yuk, keburu Qomat nih”
“Keburu
Qomat atau keburu yang lain”, goda Tyas yang membuat Lila menjadi salah
tingkah.
“Maksudnya?”
“Yah,
ngliatin cowok impianmu, hahaha”. Tyas dan kedua temannya itu berlari untuk
menghindari hadiah cubitan dari Lila seperti biasanya ketika mereka menggoda
Lila.
“Tyaaaas….!!!”Lila
mengejar teman-temannya yang lari masuk ke masjid. Wajahnya memerah karena
terus digoda teman-temannya. Apalagi ketika Nugi, seseorang yang
diperhatikannya ketika sedang shalat tadi menoleh kearahnya. Dadanya dagdigdug
tak menentu. Mukanya makin memerah, Lila pun tetunduk malu. Nugi melirik jam
yang terpajang di dinding Masjid. Kemudian, beranjak dari duduknya dan
mengumandangkan Iqomat. Keempat gadis itu pun mengikuti shalat magrib berjamaah
dengan khusyu.
Satu
per satu jamaah meninggalkan masjid. Jamaah perempuan tinggal mereka berempat
dan juga Bu Herna. Nugi juga pulang dengan adik laki-lakinya yang bernama
Radit. Sebelum pulang biasanya Lila dan ketiga temannya duduk-duduk sebentar di
serambi masjid. Ketika mereka sedang asyik ngobrol, Bu Herna keluar dan meminta
Lila untuk menemaninya ngobrol. “ Mbak Lila, keburu pulang nggak? Kalau enggak,
bisa temani ibu di sini ?”
“Tentu
bisa Bu, iyakan Lila?”, seru Tyas.
“Heee,
bi.. bisa Bu”, sahut Lila Gugup.
“Oiya
Lila, maaf ya kami ada urusan. Jadi, kami pulang duluan ya. Mari Bu Herna. Assalamualaikum”,
kata Tyas diikuti Nova dan Fitria.
Lila
menjadi grogi. “Teganya teman-temanku yang meninggalkanku berdua dengan Bu Herna.
Padahal mereka tahu, Bu Herna itu tak lain dan tak bukan adalah ibunya Kak Nugi
yang selama ini aku kagumi. Mati deh aku. Lila… stay cool… jangan nunjukin
kalau kamu lagi grogi”, kata Lila dalam hati.
“Mbak
Lila,kok bengong?”, sapa Bu Herna dengan tersenyum.
“Eh,ya
Bu,enggak kok. Ada yang bisa saya bantu?”
“Emm,
begini. Meski kita nggak terlalu dekat, boleh enggak Ibu curhat. Ini masalahnya
menyangkut anak saya. Kalau saya cerita dengan anak yang masih muda mungkin bisa
sharing apa yang biasanya diinginkan anak muda, hemm”, kata Bu Herna memulai
obrolannya. Bu Herna pun bercerita panjang lebar tentang dua anak laki-lakinya.
Lila pun tahu kedua anaknya itu memang super pintar. Nugi orangnya memang agak tertutup.
Apalagi jika menyangkut tentang pacar. Tiap kali ditanya soal pacar, Nugi selalu
menjawab, “Untuk saat ini saya lebih suka memikirkan bagaimana saya bisa
membuat robot Bu”. Jawaban itulah yang terkadang membuat Bu Herna sedih. Di
satu sisi Bu Herna senang dengan sikapnya itu Nugi akan fokus dalam kuliah
tidak akan berbuat macam-macam. Akan tetapi, di sisi lain Bu Herna khawatir
jika anaknya hanya akan tertarik dengan hobbinya saja dan tidak memikirkan
pendamping hidup.
“Mbak
Lila sendiri sudah punya pacar belum?”. Pertanyaan Bu Herna itu sontak membuat
Lila kaget.
“Hee,
belum Bu”, jawab Lila sambil meringis. Dalam hati dia berkata, “ Putramulah
yang aku dambakan selama ini Bu, hiks”.
“Oh
iya, kemarin Ibu menemukan block note ini”, kata Bu Herna. Tangannya mengeluarkan
block note kecil warna hijau dari tas tangannya. “Kemarin ibu menemukan ini
dipojok situ. Ibu pikir ini punya Mbak Lila, karena tertulis disitu namanya
Khalila”, kata Bu Herna seraya menyerahkannya kepada Lila.
“Hee,
iya Bu terima kasih. Mungkin kemarin jatuh ketika saya mampir shalat di sini.”
“Puisinya
bagus lho, maaf Ibu kemarin membacanya.”
“Heehehe”,
Lila tersenyum dan tertunduk. “Andai Bu Herna tahu, itu puisi buat Kak Nugi”,
katanya dalam hati. Dibukanya block note itu, dibacanya puisi yang sudah
seminggu ditulisnya itu. Beginilah puisi yang ditulisnya itu.
Seindah
Bunga Mawar
Mawar, rupamu
nan menawan, aromamu nan menggoda,
slalu
beri ku rasa nyaman
Mawar,
kau elok tampak mencolok, jelita bak bunga firdaus
Mawar,
kau gagah dengan duri pelindung,
kau
lembut dengan wangi yang menyanjung
Mawar,
rautmu nan ceria, penghilang hati nan lara.peluruh jiwa nan murka,
Mawar,
kau pemikat kalbu, memandang mu tak pernah buat ku jemu
Mawar,
cantikmu menggelitik, selalu membuat hati ingin melirik
Mawar,
ku suka kau tanpa cela, tak pernah ku pandang kau sebelah mata
Mawar,
kau pantas jadi idola bagi semua insan yang bermata
Mawar
disini ku rasa hina, melihatmu sebagai sosok yang sempurna
Mawar
aku hanyalah seekor kepik, makhluk kecil, tak berdaya pun menarik
Mengagumimu
sbagai anugrah dari Yang Satu
tlah
buat ku bersyukur karna bisa memandangimu
Mawar,
tak pernah sedikitpun ku coba tuk mengganggu
meski
mungkin kau tak suka kehadiranku
Mawar,
engkau sangatlah menarik, tetapi engkau tak mudah jua tuk dipetik
Ku ingin
slalu ada di sekitarmu, meski tiada nyali tuk dekatimu
Mawar,
durimu sangat tajam, aku takut runcingnya kan menghujam
Kau
makhluk indah nan perkasa,
sedang
aku makhluk kecil yang tiada sempurna
Mawar,
waktu tlah berlalu, tapi wajahmu tak sedetikpun enyah dari benakku
suaramu
slalu terngiang di telingaku,
dan
aromamu slalu tercium di sekelilingku
Mawar,
ku takut kau membenciku
meski
mungkin kau juga tak pernah mau tuk mengenalku
Mawar,
sempat ku merasa iri melihat kupu-kupu nan elok berseri
beterbangan,
hinggap tuk mengambil sari
Mawar,
aku memang tak secantik kupu-kupu,
sayap
lebar tuk mengepak pun merayu
Mawar,
ku suka kau semenjak dulu, kala itu baru pertama kita bertemu
Kini,
masa tlah bergulir, menggiring ku bersama angin yang semilir
Semua
tlah berbeda, tapi bayang mu tak segera hilang jua
Ingin ku
lupakan dirimu wahai juwita, namun hati tlah terkunci,
kau
penuhi relung ini, namamu pun tlah kuat terpatri,
tak sanggup
ku hapus meski ku ingin, tak bisa ku lupa meski ku tlah berusaha
Yang
bisa ku lakukan kini, terbang menjauh meski slalu ingin kembali
Mawar,
kini ku acuh padamu, memang itu tak ku ingkari
tapi
begitu bukan berarti ku tak peduli
karena
sebenarnya mawar, aku hanya ingin menjaga agar hatiku tiada berlari
Mawar,
meski kini kau tak tahu, bahkan sampai nanti kau tak akan pernah tahu
Ku
kan slalu menjadi pengagummu
meski
banyak kupu-kupu cantik,
meski
banyak kumbang-kumbang mengelilingimu, aku akan slalu menunggu
meski
embun tak lagi menyapaku di pagi hari
dan meski pelangi tak lagi tersenyum
padaku kala hujan terhenti
Waktu
shalat isya hampir tiba. “Assalamualaikum, boleh kami bergabung?”, Tyas,
Fitria, dan Nova pun bergabung dengan Lila. Nugi datang. Keempat dara itu
langsung masuk dan duduk tenang di saf paling belakang. Setelah shalat isya,
mereka berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.
Malam
itu malam minggu. Lila duduk dekat jendela kamarnya. Matanya tampak asyik
melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Bintang-bintang itu seolah
saling bertaut membentuk wajah Nugi di angkasa. “OMG, lupa aku,”tiba-tiba Lila
teringat bahwa dia pernah menulis nama lengkap Nugi di block notenya. Lila
segera mengambil dan mencari tulisan itu di block notenya. Lila kaget ketika
menemukan tulisan yang berbeda dari tulisannya di bawah nama “Irawan Nugi
Pratama”. “Tulisan siapa ini?” pikirnya.
“Kepik
cantik, kenapa kau tak pernah hinggap di kelopakku. Aku bosan dengan kupu-kupu
di sekelilingku. Kau tahu? Mereka datang hanya untuk mengambil sari bungaku.
Setelah ku layu mereka tak pernah memanggil embun untuk memberiku kesejukan. Ku
tunggu kau tuk terbang dan hinggap padaku. Terimakasih tlah mengenang namaku di
block notemu ini. Sampai jumpa di subuh nanti.
Salam sewangi mawar J”.
“Aaaaa…
ini dari siapa? Beneran ini dari Kak Nugi? OMG… aaaaa. Haduh gimana besok.
Shalat subuh ke masjid nggak ya? Jadi deg-degan”. Lila senang sekali. Tetapi
dia juga bingung kalau ketemu malu tapi kalau enggak rindu. “Berarti Bu Herna
udah tahu semuanya dong, aaaaaa mau taruh mana nih mukaku kalau ketemu”.
Keesokan
harinya, Lila tidak shalat berjamaah di masjid. “Dari pada salah tingkah lebih
baik menghindar dulu”, pikirnya. Meskipun hari minggu, Lila pergi ke kampus
untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh HIMA. Tetapi belum jauh Lila
berangkat, motor yang dikendarainya oleng. Ternyata bannya bocor. Lila
mendorong motornya ke bengkel terdekat tetapi sudah banyak yang antre di sana.
Lila yang mulai lelah, beristirahat sembari menunggu. “Ehem.., butuh tumpangan dek?”
tiba-tiba Nugi muncul di bengkel itu. Lila kaget banget. “Eh.. he.. eng..enggak
kok Kak. Makasih!’, jawabnya sambil tersenyum.
“Beneran?”
“Bener
Kak, iya Lila nunggu aja.”
Nugi
pun berangkat. Lila menyesal kenapa tadi menolak ajakan Nugi. Padahal ini
kesempaan bisa dekat sama Nugi. Tetapi tak lama kemudian Nugi kembali lagi.
Sepertinya ada barang yang ketinggalan di rumah. Sekali lagi Nugi menghampiri
Lila dan menawar tumpangan.
“Dek,
bener nih nggak mau bareng? Udah keburu siang loh. Lihat tuh antrenya masih
banyak.”
“Iya
sih, udah siang. Tapi nggak deh, nanti nggak bisa pulang malahan”.
“Emang
pulang jam berapa?”
“Jam
2 mungkin Kak”.
“Kebetulan,
aku jam 1 kelar. Tenang aja nanti aku jemput deh,”
“Ah,
nanti malah ngerepotin lagi”.
“Nggak
papa. Ayo buruan”.
“Hee,
ya udah deh”.
“Pak
motornya saya tinggal ya, nanti sore saya ambil. Assalamualaikum”, kata Lila
kepada pemilik bengkel.
Lila
merasa bahagia sekali pagi itu. Tak pernah menyangka dia bisa sedekat itu
dengan orang yang di kaguminya selama ini. “Hati-hati Nug, jangan ngebut ya”.
Lila kaget dan tersipu melihat Bu Herna yang sedang beli sayuran di seberang
jalan. “Siap, Bu. Assalamualaikum…”. Nugi melajukan motornya dengan lincah.
Lila hanya terdiam dan sesekali membenahi tas gendongnya yang dijadikan
pembatas antara dirinya dengan Nugi. Jantungnya berdebar-debar. Lidahnya
seperti kelu, tak dapat berkata-kata.
“Ohiya
dek, kok tadi enggak ke masjid?”
“Hee,
iya.”
“Ngomong-ngomong,
puisinya bagus lho.”
“He,
biasa aja kok Kak.”
“Kira-kira
siapa tuh yang jadi mawar? Beruntung banget dirindu sama kepik.” Lila semakin
terdiam, dia malu banget dan bingung harus menjawab apa. “Dek, sekarang kok
beda. Biasanya kalau ketemu ramah banget, tapi kok akhir-akhir ini cuek ya. Aku
ada salah sama kamu ya?”
“Enggak
kok Kak, Lila Cuma malu aja. Lila takut aja”.
“Emang
aku menakutkan? Aku gak suka makan orang kok, heheheh”, kata Nugi samba tertawa
kecil.
“Yah
semua orang kan tahu Kak Nugi itu perfect, selalu jadi juara di setiap
perlombaan. Selain itu, kakak kan terkenal alim lagi. Ibu juga dosen, adiknya
apalagi. Pinteerr banget. Oiya, selamat ya kak adeknya kemaren nyabet Emas kan
di OSN. Lila jadi minder. Apalagi kakak kadang kelihatan cuek gitu, Lila inikan
hanya mahasiswa biasa aja, jadi smakin takut mau berteman.”
“Ahahaha,
kamu itu lucu dek, jadi itu yang bikin kamu berubah. Denger ya, aku nggak
pernah gitu kok sama orang lain. Yah, mungkin bagi orang lain yang belum kenal
sama aku pasti juga bakal ngomong gitu. Tapi sebenernya enggak. Tanya aja sama
temen-temenku. Akulah mahasiswa paling ramah sekampus, hehehe. Bercanda, jadi
sombongkan malahan. Lagian ya, membeda-bedakan orang saat berteman itu menurutku
kayak anak kecil aja. Belum dewasa gitu. Kalau sudah bisa berpikir dewasa kan
pasti akan menganggap segala perbedaan itu sebagai suatu keragaman. Jika kita
saling menghormati dan menghargai satu sama lain, menurutku IT”S OK. Jadi kamu
jangan pernah merasa begitu. Kalau minder sama orang-orang yang lebih sukses
kan berarti juga membeda-bedakan juga dalam berteman. Setiap orang itukan punya
kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kita tidak bisa menuntut persamaan
dari orang lain. Jelaskan adik kecil? Nah, satu lagi nih dek, kalau suka sama
seseorang tuh ungkapin aja, kenapa harus jadi secret admirer? Hihihi,” kata
Nugi sambil tertawa.
“Ah
kakak ngatain aku kecil, nggak sadar apa kalau kakak juga kecil, uuu…”, sugut
Lila.
“Hehehe,
iya.iya, maaf dek Lila”.
“Lagian
siapa juga yang jadi secret admirer? Heeee”. Lila merasa bahagia sekali hari
itu. Mulai saat itu Lila bertekat menghilangkan perasaannya yang suka rendah
diri dengan orang-orang yang lebih sukses darinya. Malah bergaul dengan
orang-orang sukses bisa memacu semangat untuk selalu belajar Dan berusaha
meraih kesuksesan pula. Lila juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak
membeda-bedakan teman dalam bergaul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar