Rabu, 20 November 2013

Menyiapkan Anak untuk Menjadi Kelompok Minoritas


Hidup sebagai minoritas dalam suatu kelompok masyarakat tidaklah mudah. Menjadi minoritas harus pandai-pandai beradaptasi dengan lingkungan agar tidak terkucilkan. Namun dalam beradaptasi juga harus tetap berhati-hati, harus bisa memilah-milah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan prinsip hidup yang telah tertanam dalam diri seseorang. Apalagi dalam persoalan agama. Jika tidak, bisa-bisa orang tersebut malah menyimpang dari ajaran agama atau kepercayaan yang dianut.
 Bagi sebagian orang dewasa, menjadi minoritas tidaklah menyenangkan. Namun, bagaimana dengan anak-anak? Anak usia 5-6 tahun belum mengerti tentang makna perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Anak-anak pada usia ini belajar dengan meniru apa yang dilihat dan didengar. Jika anak tidak dibekali dengan pondasi yang kokoh maka anak akan mudah tergelincir dalam kesalahan yang akhirnya mengakibatkan pada penyimpangan.
Untuk membekali anak agar siap hidup sebagai minoritas, orang tua hendaknya memberikan dasar-dasar hidup yang kokoh. Pembekalan agama adalah hal yang paling efektif untuk menjaga anak tetap dalam koridor prisip yang dianut. Agama mengandung nilai-nilai yang mencakup berbagai bidang dalam kehidupan. Pembekalan agama dapat dilakukan dengan Mengenalkan Tuhan, menjelaskan ritual ibadah dan hari besar. Menjelaskan symbol-simbol atau benda-benda yang berhubungan dengan agama yang dianut. Dengan demikian, anak dapat membedakan hal-hal mana yang boleh dan tidak untuk dilakukan.
Selain itu anak juga perlu dijelaskan tentang keanekaragaman yang ada dalam masyarakat. Dalam keanekaragaman itu, anak boleh untuk mengikuti hal-hal yang positif yang sesuai dengan apa yang menjadi pedoman hidupnya. Dengan pembekalan agama tadi,diharapkan anak memiliki pijakan sehingga anak tidak mengikuti aktivitas ibadah agama lain, serta tidak mengganggu atau mengejek orang lain yang memiliki aturan dan cara berperilaku yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh orang tua.
Penanaman nilai-nilai agama dan moral kepada anak usia dini sesuai dengan tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun dalam hal menghormati agamaorang lain, dapat menjadi bekal anak untuk siap berada di daerah dimana anak menjadi kelompok minoritas. Dengan penanaman sikap toleransi, tenggang rasa, mengajarkan anak untuk berempati, bersimpati terhadap orang lain, tidak membeda-bedakan teman sejak usia dini akan membantu anak tumbuh menjadi anak yang mudah beradaptasi meski dalam lingkungan yang jauh berbeda dengan lingkungan anak yang sebelumnya. Sehingga menjadi kelompok minoritas di dalam masyarakat yang heterogen pun tidak jadi masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar