Hidup
sebagai minoritas dalam suatu kelompok masyarakat tidaklah mudah. Menjadi
minoritas harus pandai-pandai beradaptasi dengan lingkungan agar tidak terkucilkan.
Namun dalam beradaptasi juga harus tetap berhati-hati, harus bisa memilah-milah
mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan prinsip hidup yang telah
tertanam dalam diri seseorang. Apalagi dalam persoalan agama. Jika tidak,
bisa-bisa orang tersebut malah menyimpang dari ajaran agama atau kepercayaan
yang dianut.
Bagi sebagian orang dewasa, menjadi minoritas
tidaklah menyenangkan. Namun, bagaimana dengan anak-anak? Anak usia 5-6 tahun belum
mengerti tentang makna perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat.
Anak-anak pada usia ini belajar dengan meniru apa yang dilihat dan didengar.
Jika anak tidak dibekali dengan pondasi yang kokoh maka anak akan mudah
tergelincir dalam kesalahan yang akhirnya mengakibatkan pada penyimpangan.
Untuk
membekali anak agar siap hidup sebagai minoritas, orang tua hendaknya
memberikan dasar-dasar hidup yang kokoh. Pembekalan agama adalah hal yang
paling efektif untuk menjaga anak tetap dalam koridor prisip yang dianut. Agama
mengandung nilai-nilai yang mencakup berbagai bidang dalam kehidupan.
Pembekalan agama dapat dilakukan dengan Mengenalkan Tuhan, menjelaskan ritual
ibadah dan hari besar. Menjelaskan symbol-simbol atau benda-benda yang
berhubungan dengan agama yang dianut. Dengan demikian, anak dapat membedakan
hal-hal mana yang boleh dan tidak untuk dilakukan.
Selain
itu anak juga perlu dijelaskan tentang keanekaragaman yang ada dalam
masyarakat. Dalam keanekaragaman itu, anak boleh untuk mengikuti hal-hal yang
positif yang sesuai dengan apa yang menjadi pedoman hidupnya. Dengan pembekalan
agama tadi,diharapkan anak memiliki pijakan sehingga anak tidak mengikuti
aktivitas ibadah agama lain, serta tidak mengganggu atau mengejek orang lain
yang memiliki aturan dan cara berperilaku yang berbeda dengan apa yang
diajarkan oleh orang tua.
Penanaman
nilai-nilai agama dan moral kepada anak usia dini sesuai dengan tingkat
pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun dalam hal menghormati agamaorang
lain, dapat menjadi bekal anak untuk siap berada di daerah dimana anak menjadi
kelompok minoritas. Dengan penanaman sikap toleransi, tenggang rasa,
mengajarkan anak untuk berempati, bersimpati terhadap orang lain, tidak
membeda-bedakan teman sejak usia dini akan membantu anak tumbuh menjadi anak
yang mudah beradaptasi meski dalam lingkungan yang jauh berbeda dengan
lingkungan anak yang sebelumnya. Sehingga menjadi kelompok minoritas di dalam
masyarakat yang heterogen pun tidak jadi masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar