Pada
suatu sore, Anisa pergi berbelanja ke warung bersama ibunya. Diperjalanan
pulang, Anisa menemukan seekor anak kucing yang lucu. Tubuhnya sediit kurus,
matanya bulat, dan ekornya panjang. Bulunya halus berwarna loreng. Kucing itu
terus mengeong mencari induknya. Di sekitar tempat itu tidak tampak induk
kucing atau anak kucing yang lain. Anisa mengajak ibunya untuk berhenti
sebentar.
“Bu,
kita berhenti sebentar yuk. Kok anak kucingnya sendirian ya Bu, mana ibunya?”
“Emmm..
mungkin ibunya sedang pergi.”
“Berarti
ibunya enggak sayang dong Bu, masa anaknya ditinggal sendiri dijalan. Kan
kasihan ya Bu.”
“Ooh
tidak seperti itu. Semua ibu di dunia ini sayang kepada anaknya. Termasuk
binatang juga. Mungkin anak kucing itu tertinggal saat ia bermain bersama induk
atau anak kucing yang lain. Atau mungkin
anak kucing itu pergi bermain tetapi saat dia mau kembali ke rumahnya, anak
kucing itu tersesat.”
“Meooong...
meoong.... meaoungg”, anak kucing itu terus mengeong. Anisa merasa kasihan
melihatnya. Dia akhirnya meminta izin ibunya untuk membawa kucing kecil itu
pulang ke rumah. Ibunya pun setuju.
Sesampainya
di rumah, Anisa memberi makan kucing
kecil itu. Binatang itu tampak begitu lapar. Dia makan dengan lahapnya. Anisa
tampak begitu senang. Anisa meminta ibunya untuk mencarikan nama untuk
kucingnya itu. Akhirnya mereka memberinya nama Ketty. Ibu Anisa berpesan agar
Anisa memelihara anak kucing itu dengan baik. Sebagai makhluk ciptaan Allah,
Ketty harus disayangi dan tidak boleh diperlakukan dengan kasar.
“Anisa....,
kamu kan sudah mengambil Ketty. Jadi kamu harus merawatnya dengan baik. Ketty
itu binatang yang merupakan makhluk ciptaan Allah. Nah, kepada sesama makhluk
Allah, maka kita harus saling menyayangi. Oleh karena itu, Anisa harus
memperlakukannya dengan baik. Tidak boleh kasar atau menyiksanya. Kamu mengerti
cantik?”.
“Iya
Bu, Anisa mengerti. Anisa sayang sama Ketty. Anisa akan merawatnya dengan
baik”, ujar Anisa sambil tersenyum.
Kemudian
Anisa dan ibunya membuatkan tempat tidur untuk Ketty. Mereka mengambil kardus
tempat mainan Anisa yang masih kosong. Kardus itu dibungkus dengan kertas kado
dan di beri kain yang tidak terpakai untuk alasnya. Setelah selesai, Anisa
memasukkan Ketty ke dalam kardus itu. Ketty tampak begitu nyaman.
“Toktoktok.
Asalamualaikum....”, seru seseorang dari luar.
“Ayaaah......
walikumsalam....”, seru Anisa sembari berlari untuk membukakan pintu. “Ayah...
Ayah... tadi Anisa dari warung sama Ibu. Terus Anisa ketemu sama Ketty, trus
Ketty Anisa bawa pulang deh.”
“Oyah,
Ketty itu siapa?”
“Ketty
itu anak kucing Yah, kasian Yah nggak punya teman kucingnya itu.”
“Oooh
begitu. Emm... Anisa ceritanya nanti lagi ya. Tapi sekarang ayah boleh minta
tolong tidak?”
“Minta
tolong apa Yah?”
“Tolong
ambilkan air putih ya, ayah haus nih.”
“Oke Yah, tunggu sebentar ya. Ayah duduk dulu disini.” Anisa pun pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk ayahnya. Tetapi tiba-tiba, “ praaang......”. Tangan Anisa tidak sengaja menyenggol gelas yang diletakkan di atas meja. Gelas itu pun jatuh ke lantai dan pecah. Mendengar ada sesuatu yang pecah ibu Anisa pergi ke dapur.
“Anisa,
kok gelasnya pecah? Siapa yang memecahkannya?”
“Eem...
anu Bu, bukan Anisa Bu yang melakukanya,” jawab Anisa sambil menunduk.
“Lalu
siapa dong?”
“Emm...
tadi Ketty melompat ke meja, terus tadi Ketty menendang gelasnya. Beneran Bu,
Anisa enggak bohong.”
“Ooh
begitu. Sekarang Kettynya mana sayang?”
“
Ketty pergi Bu,” jawab Anisa.
“Emm...
Anisa tahu tidak? Ibu itu sayang lho sama Anisa. Apalagi Anisa tidak bohong sama Ibu. Berarti Anisa
itu anak yang baik, anak yang jujur. Allah pasti juga sayang sama Anisa, karena
Allah itu suka sama anak yang berani berkata yang sebenarnya.”
“Kalau
begitu Allah enggak sayang ya Bu sama anak yang suka bohong?”
“Iya,
Allah tidak suka sama anak yang tidak jujur. Oleh karena itu Allah mengajarkan
agar kita selalu berkata yang sebenarnya.”
“Bu
maafin Anisa ya. Anisa tadi bohong sama Ibu. Tadi yang mecahin gelas itu Anisa.
Anisa bohong karna takut nanti Ibu marah,” kata Anisa dengan mata berkaca-kaca.
“Ooh.
Jadi bukan Ketty yangmemecahkan gelasnya. Wah, Anisa hebat berani berkata
jujur.”
“Ibu
enggak marah?”
“Enggak
dong Sayang. Ibu malah bangga sama Anisa. Anisa sudah berkata jujur, sudah
mengakui kesalahan, dan juga Anisa sudah mau minta maaf. Jadi Ibu nggak boleh
marah sama Anisa. Ibu sayaaang.... banget sama Anisa.”
“Anisa
juga sayang sama Ibu,” kata Anisa sambil memeluk ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar