Dewasa
ini banyak orang tua yang lebih memilih untuk memasukkan anak usia dininya ke
sekolah-sekolah yang berbasis agama. Hal ini dikarenakan orang tua ingin agar
antara pendidikan agama dan intelektual anak bisa berjalan secara seimbang.
Memang, dalam hal keagamaan anak-anak
yang sekolah di sekolah yang berbasis agama lebih baik dari anak-anak yang
sekolah di sekolah umum dengan berbagai agama. Di sekolah yang berbasis agama,
tentu materi-materi keagamaan diajarkan secara lebih mendalam. Dengan
pembelajaran agama yang lebih intensif maka tingkat pencapaian perkembangan
anak usia 5-6 tahun seperti mengenal agama, membiasakan diri beribadah,
memahami perilaku mulia, baik dan buruk, serta mengenal ritual dan hari besar
agama dapat dicapai dengan baik. Tetapi bagaimana dalam hal menghormati agama
orang lain?
Pada
umumnya anak yang biasa dengan lingkungan yang homogen akan sulit untuk
menerima suatu perbadaan yang ada di masyarakat yang memiliki keanekaragaman.
Anak akan menganggap bahwa semua orang itu sama. Agama yang dianut semua orang
itu sama, jadi cara beribadah pun juga sama. Anak akan cenderung memfonis
sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan guru atau orang tua
adalah salah. Sesuatu dianggap benar jika sesuai dengan pelajaran apa yang
telah anak peroleh.
Indonesia
sendiri merupakan negara kesatuan dengan berbagai macam suku, ras, dan agama.
Dalam satu agama pun masih terbagi dalam berbagai macam kelompok/aliran. Hal
ini tentunya akan membingungkan bagi anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan
yang homogen. Misalnya saja, anak hidup dalam lingkungan yang menganut agama
yang sama. Setelah sekolah pun orang tua memasukkannya ke dalam sekolah dengan
basis agama yang sama. Maka anak hanya akan mengenal satu agama yang dianutnya
saja. Untuk itu, anak perlu disiapkan agar dapat hidup dalam lingkungan yang
heterogen.
Hidup
dalam keanekaragaman tidaklah mudah. Kepentingan, adat istiadat, atau
kebudayaan antara individu dengan individu lain atau suatu kelompok dengan
kelompok yang lain tidak bisa disamaratakan. Setiap individu atau kelompok
memiliki cara masing-masing dalam hal berperilaku maupun beribadah. Sehingga
untuk dapat hidup secara harmonis perlu adanya sikap toleransi antar anggota
masyarakat.
Sikap
toleransi seharusnya ditanamkan kepada anak sejak dini. Anak yang terbiasa
bertoleransi sejak dini akan lebih mudah untuk beradaptasi dalam lingkungan
yang heterogen. Untuk mengajarkan toleransi terhadap agama lain dapat dilakukan
dengan mengenalkan agama yang dianut kepada anak. Mengenalkan Tuhan, menjelaskan
ritual ibadah dan hari besar. Menjelaskan symbol-simbol atau benda-benda yang
berhubungan dengan agama yang dianut. Serta hal yang tidak kalah pentingnya
adalah menjelaskan kepada anak bahwa di dunia ini terdapat beberapa agama, yang
mana tiap-tiap umatnya akan menggunakan cara yang berbeda-beda dalam menyebut
nama Tuhan dan melaksanakan ibadah. Tempat, ritual, kebiasaan, dan
symbol-simbolnya pun berbeda-beda antara agama satu dengan yang lain.
Mengenalkan
dan mengajarkan agama sendiri memang lebih mudah daripada mengenalkan agama
orang lain. Memperkenalkan Tuhan, agama beserta ritual ibadah dan berbagai hal
tentang agama yang dianut akan memudahkan anak untuk membedakan agamanya dengan
agama lain. Misalnya, sebagai orang Islam perlu mengajarkan bahwa Tuhan itu
disebut dengan sebutan Allah, tempat untuk ibadah bernama masjid, kitab yang
dipelajari adalah kitab Al-Quran, ibadah wajib yang dilakukan setiap harinya
adalah shalat, mengajarkan rukun islam, hari-hari besar, dan hal-hal yang
berkaitan dengan agama islam. Begitu juga dengan agama-agama lain seperti
Nasrani. Sebagai seorang Nasrani, perlu mengajarkan anaknya bahwa Tuhannya
disebut dengan sebutan Yesus, tempat ibadahnya bernama gereja, kitabnya Injil
dan sebagainya. Untuk Agama yang lain pun juga sama, sehingga dengan mengenal
agama yang dianut, anak akan lebih mudah membedakan mana yang boleh dia lakuka
ketika berada dalam lingkungan yang berbeda (heterogen) sehingga tidak
menyimpang dari ajarannya.
Sedangkan
untuk mengenalkan agama lain, selain dengan menjelaskan bahwa terdapat banyak
agama yang dianut dalam masyarakat, anak perlu dikenalkan dengan cara yang
lebih konkrit. Misalnya ketika melewati tempat ibadah agama lain, anak diberi
tahu bahwa itu tempat ibadah agama lain yang bentuk bangunannya berbeda dengan
tempat ibadah agamanya karena setiap agama memiliki symbol masing-masing.
Disitu juga perlu dijelaskan, karena tiap agama memiliki cara beribadah yang
berbeda-beda maka anak tidak boleh menyalahkan atau mengolok anak lain atau orang dewasa yang
tidak melakukan ibadah seperti dirinya. Anak diajarkan untuk tetap menghormati
dan tidak mengganggu orang lain meski berbeda agama.
Cara
lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak anak untuk tetap menjaga
hubungan baik dengan umat agama lain. Misalnya saja mengajak anak dalam suatu
acara yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai macam agama. Disana akan
diajarkan bagaimana bertoleransi kepada orang lain. Seperti mempersilahkan
orang lain untuk melaksanakan ibadah. Ketika ada yang berpuasa, anak diajarkan
untuk tidak makan dilingkungan orang yang berpuasa. Cara lain yang bisa
diajarkan adalah ketika membantu orang yang sedang kesusahan tidak boleh
membeda-bedakan agamanya. Misalnya terjadi bencana alam di suatu daerah. Anak
diajak untuk memberikan bantuan kepada korban bencana. Dalam memberikan bantuan
tidak membedakan korban. Meskipun berbeda agama, orang lain yang mengalami
kesusahan wajib diberi bantuan.
Menanamkan
sikap toleransi kepada anak usia dini akan mengembangkan aspek pencapaian
perkembangan menghormati agama orang lain. Hal ini akan mempermudah anak untuk
beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta membantu anak berinteraksi dengan
orang lain dalam lingkungan masyarakat yang heterogen, khususnya bertoleransi
dengan umat agama lain.
Dewasa
ini banyak orang tua yang lebih memilih untuk memasukkan anak usia dininya ke
sekolah-sekolah yang berbasis agama. Hal ini dikarenakan orang tua ingin agar
antara pendidikan agama dan intelektual anak bisa berjalan secara seimbang.
Memang, dalam hal keagamaan anak-anak
yang sekolah di sekolah yang berbasis agama lebih baik dari anak-anak yang
sekolah di sekolah umum dengan berbagai agama. Di sekolah yang berbasis agama,
tentu materi-materi keagamaan diajarkan secara lebih mendalam. Dengan
pembelajaran agama yang lebih intensif maka tingkat pencapaian perkembangan
anak usia 5-6 tahun seperti mengenal agama, membiasakan diri beribadah,
memahami perilaku mulia, baik dan buruk, serta mengenal ritual dan hari besar
agama dapat dicapai dengan baik. Tetapi bagaimana dalam hal menghormati agama
orang lain?
Pada
umumnya anak yang biasa dengan lingkungan yang homogen akan sulit untuk
menerima suatu perbadaan yang ada di masyarakat yang memiliki keanekaragaman.
Anak akan menganggap bahwa semua orang itu sama. Agama yang dianut semua orang
itu sama, jadi cara beribadah pun juga sama. Anak akan cenderung memfonis
sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan guru atau orang tua
adalah salah. Sesuatu dianggap benar jika sesuai dengan pelajaran apa yang
telah anak peroleh.
Indonesia
sendiri merupakan negara kesatuan dengan berbagai macam suku, ras, dan agama.
Dalam satu agama pun masih terbagi dalam berbagai macam kelompok/aliran. Hal
ini tentunya akan membingungkan bagi anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan
yang homogen. Misalnya saja, anak hidup dalam lingkungan yang menganut agama
yang sama. Setelah sekolah pun orang tua memasukkannya ke dalam sekolah dengan
basis agama yang sama. Maka anak hanya akan mengenal satu agama yang dianutnya
saja. Untuk itu, anak perlu disiapkan agar dapat hidup dalam lingkungan yang
heterogen.
Hidup
dalam keanekaragaman tidaklah mudah. Kepentingan, adat istiadat, atau
kebudayaan antara individu dengan individu lain atau suatu kelompok dengan
kelompok yang lain tidak bisa disamaratakan. Setiap individu atau kelompok
memiliki cara masing-masing dalam hal berperilaku maupun beribadah. Sehingga
untuk dapat hidup secara harmonis perlu adanya sikap toleransi antar anggota
masyarakat.
Sikap
toleransi seharusnya ditanamkan kepada anak sejak dini. Anak yang terbiasa
bertoleransi sejak dini akan lebih mudah untuk beradaptasi dalam lingkungan
yang heterogen. Untuk mengajarkan toleransi terhadap agama lain dapat dilakukan
dengan mengenalkan agama yang dianut kepada anak. Mengenalkan Tuhan, menjelaskan
ritual ibadah dan hari besar. Menjelaskan symbol-simbol atau benda-benda yang
berhubungan dengan agama yang dianut. Serta hal yang tidak kalah pentingnya
adalah menjelaskan kepada anak bahwa di dunia ini terdapat beberapa agama, yang
mana tiap-tiap umatnya akan menggunakan cara yang berbeda-beda dalam menyebut
nama Tuhan dan melaksanakan ibadah. Tempat, ritual, kebiasaan, dan
symbol-simbolnya pun berbeda-beda antara agama satu dengan yang lain.
Mengenalkan
dan mengajarkan agama sendiri memang lebih mudah daripada mengenalkan agama
orang lain. Memperkenalkan Tuhan, agama beserta ritual ibadah dan berbagai hal
tentang agama yang dianut akan memudahkan anak untuk membedakan agamanya dengan
agama lain. Misalnya, sebagai orang Islam perlu mengajarkan bahwa Tuhan itu
disebut dengan sebutan Allah, tempat untuk ibadah bernama masjid, kitab yang
dipelajari adalah kitab Al-Quran, ibadah wajib yang dilakukan setiap harinya
adalah shalat, mengajarkan rukun islam, hari-hari besar, dan hal-hal yang
berkaitan dengan agama islam. Begitu juga dengan agama-agama lain seperti
Nasrani. Sebagai seorang Nasrani, perlu mengajarkan anaknya bahwa Tuhannya
disebut dengan sebutan Yesus, tempat ibadahnya bernama gereja, kitabnya Injil
dan sebagainya. Untuk Agama yang lain pun juga sama, sehingga dengan mengenal
agama yang dianut, anak akan lebih mudah membedakan mana yang boleh dia lakuka
ketika berada dalam lingkungan yang berbeda (heterogen) sehingga tidak
menyimpang dari ajarannya.
Sedangkan
untuk mengenalkan agama lain, selain dengan menjelaskan bahwa terdapat banyak
agama yang dianut dalam masyarakat, anak perlu dikenalkan dengan cara yang
lebih konkrit. Misalnya ketika melewati tempat ibadah agama lain, anak diberi
tahu bahwa itu tempat ibadah agama lain yang bentuk bangunannya berbeda dengan
tempat ibadah agamanya karena setiap agama memiliki symbol masing-masing.
Disitu juga perlu dijelaskan, karena tiap agama memiliki cara beribadah yang
berbeda-beda maka anak tidak boleh menyalahkan atau mengolok anak lain atau orang dewasa yang
tidak melakukan ibadah seperti dirinya. Anak diajarkan untuk tetap menghormati
dan tidak mengganggu orang lain meski berbeda agama.
Cara
lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak anak untuk tetap menjaga
hubungan baik dengan umat agama lain. Misalnya saja mengajak anak dalam suatu
acara yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai macam agama. Disana akan
diajarkan bagaimana bertoleransi kepada orang lain. Seperti mempersilahkan
orang lain untuk melaksanakan ibadah. Ketika ada yang berpuasa, anak diajarkan
untuk tidak makan dilingkungan orang yang berpuasa. Cara lain yang bisa
diajarkan adalah ketika membantu orang yang sedang kesusahan tidak boleh
membeda-bedakan agamanya. Misalnya terjadi bencana alam di suatu daerah. Anak
diajak untuk memberikan bantuan kepada korban bencana. Dalam memberikan bantuan
tidak membedakan korban. Meskipun berbeda agama, orang lain yang mengalami
kesusahan wajib diberi bantuan.
Menanamkan
sikap toleransi kepada anak usia dini akan mengembangkan aspek pencapaian
perkembangan menghormati agama orang lain. Hal ini akan mempermudah anak untuk
beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta membantu anak berinteraksi dengan
orang lain dalam lingkungan masyarakat yang heterogen, khususnya bertoleransi
dengan umat agama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar