Sabtu, 30 November 2013

Mengajarkan Anak Bertoleransi dalam Lingkungan Agama yang Heterogen




Dewasa ini banyak orang tua yang lebih memilih untuk memasukkan anak usia dininya ke sekolah-sekolah yang berbasis agama. Hal ini dikarenakan orang tua ingin agar antara pendidikan agama dan intelektual anak bisa berjalan secara seimbang. Memang,  dalam hal keagamaan anak-anak yang sekolah di sekolah yang berbasis agama lebih baik dari anak-anak yang sekolah di sekolah umum dengan berbagai agama. Di sekolah yang berbasis agama, tentu materi-materi keagamaan diajarkan secara lebih mendalam. Dengan pembelajaran agama yang lebih intensif maka tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun seperti mengenal agama, membiasakan diri beribadah, memahami perilaku mulia, baik dan buruk, serta mengenal ritual dan hari besar agama dapat dicapai dengan baik. Tetapi bagaimana dalam hal menghormati agama orang lain?
Pada umumnya anak yang biasa dengan lingkungan yang homogen akan sulit untuk menerima suatu perbadaan yang ada di masyarakat yang memiliki keanekaragaman. Anak akan menganggap bahwa semua orang itu sama. Agama yang dianut semua orang itu sama, jadi cara beribadah pun juga sama. Anak akan cenderung memfonis sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan guru atau orang tua adalah salah. Sesuatu dianggap benar jika sesuai dengan pelajaran apa yang telah anak peroleh.
Indonesia sendiri merupakan negara kesatuan dengan berbagai macam suku, ras, dan agama. Dalam satu agama pun masih terbagi dalam berbagai macam kelompok/aliran. Hal ini tentunya akan membingungkan bagi anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang homogen. Misalnya saja, anak hidup dalam lingkungan yang menganut agama yang sama. Setelah sekolah pun orang tua memasukkannya ke dalam sekolah dengan basis agama yang sama. Maka anak hanya akan mengenal satu agama yang dianutnya saja. Untuk itu, anak perlu disiapkan agar dapat hidup dalam lingkungan yang heterogen.
Hidup dalam keanekaragaman tidaklah mudah. Kepentingan, adat istiadat, atau kebudayaan antara individu dengan individu lain atau suatu kelompok dengan kelompok yang lain tidak bisa disamaratakan. Setiap individu atau kelompok memiliki cara masing-masing dalam hal berperilaku maupun beribadah. Sehingga untuk dapat hidup secara harmonis perlu adanya sikap toleransi antar anggota masyarakat.
Sikap toleransi seharusnya ditanamkan kepada anak sejak dini. Anak yang terbiasa bertoleransi sejak dini akan lebih mudah untuk beradaptasi dalam lingkungan yang heterogen. Untuk mengajarkan toleransi terhadap agama lain dapat dilakukan dengan mengenalkan agama yang dianut kepada anak. Mengenalkan Tuhan, menjelaskan ritual ibadah dan hari besar. Menjelaskan symbol-simbol atau benda-benda yang berhubungan dengan agama yang dianut. Serta hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjelaskan kepada anak bahwa di dunia ini terdapat beberapa agama, yang mana tiap-tiap umatnya akan menggunakan cara yang berbeda-beda dalam menyebut nama Tuhan dan melaksanakan ibadah. Tempat, ritual, kebiasaan, dan symbol-simbolnya pun berbeda-beda antara agama satu dengan yang lain.
Mengenalkan dan mengajarkan agama sendiri memang lebih mudah daripada mengenalkan agama orang lain. Memperkenalkan Tuhan, agama beserta ritual ibadah dan berbagai hal tentang agama yang dianut akan memudahkan anak untuk membedakan agamanya dengan agama lain. Misalnya, sebagai orang Islam perlu mengajarkan bahwa Tuhan itu disebut dengan sebutan Allah, tempat untuk ibadah bernama masjid, kitab yang dipelajari adalah kitab Al-Quran, ibadah wajib yang dilakukan setiap harinya adalah shalat, mengajarkan rukun islam, hari-hari besar, dan hal-hal yang berkaitan dengan agama islam. Begitu juga dengan agama-agama lain seperti Nasrani. Sebagai seorang Nasrani, perlu mengajarkan anaknya bahwa Tuhannya disebut dengan sebutan Yesus, tempat ibadahnya bernama gereja, kitabnya Injil dan sebagainya. Untuk Agama yang lain pun juga sama, sehingga dengan mengenal agama yang dianut, anak akan lebih mudah membedakan mana yang boleh dia lakuka ketika berada dalam lingkungan yang berbeda (heterogen) sehingga tidak menyimpang dari ajarannya.
Sedangkan untuk mengenalkan agama lain, selain dengan menjelaskan bahwa terdapat banyak agama yang dianut dalam masyarakat, anak perlu dikenalkan dengan cara yang lebih konkrit. Misalnya ketika melewati tempat ibadah agama lain, anak diberi tahu bahwa itu tempat ibadah agama lain yang bentuk bangunannya berbeda dengan tempat ibadah agamanya karena setiap agama memiliki symbol masing-masing. Disitu juga perlu dijelaskan, karena tiap agama memiliki cara beribadah yang berbeda-beda maka anak tidak boleh menyalahkan atau  mengolok anak lain atau orang dewasa yang tidak melakukan ibadah seperti dirinya. Anak diajarkan untuk tetap menghormati dan tidak mengganggu orang lain meski berbeda agama.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak anak untuk tetap menjaga hubungan baik dengan umat agama lain. Misalnya saja mengajak anak dalam suatu acara yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai macam agama. Disana akan diajarkan bagaimana bertoleransi kepada orang lain. Seperti mempersilahkan orang lain untuk melaksanakan ibadah. Ketika ada yang berpuasa, anak diajarkan untuk tidak makan dilingkungan orang yang berpuasa. Cara lain yang bisa diajarkan adalah ketika membantu orang yang sedang kesusahan tidak boleh membeda-bedakan agamanya. Misalnya terjadi bencana alam di suatu daerah. Anak diajak untuk memberikan bantuan kepada korban bencana. Dalam memberikan bantuan tidak membedakan korban. Meskipun berbeda agama, orang lain yang mengalami kesusahan wajib diberi bantuan.
Menanamkan sikap toleransi kepada anak usia dini akan mengembangkan aspek pencapaian perkembangan menghormati agama orang lain. Hal ini akan mempermudah anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta membantu anak berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan masyarakat yang heterogen, khususnya bertoleransi dengan umat agama lain.


Dewasa ini banyak orang tua yang lebih memilih untuk memasukkan anak usia dininya ke sekolah-sekolah yang berbasis agama. Hal ini dikarenakan orang tua ingin agar antara pendidikan agama dan intelektual anak bisa berjalan secara seimbang. Memang,  dalam hal keagamaan anak-anak yang sekolah di sekolah yang berbasis agama lebih baik dari anak-anak yang sekolah di sekolah umum dengan berbagai agama. Di sekolah yang berbasis agama, tentu materi-materi keagamaan diajarkan secara lebih mendalam. Dengan pembelajaran agama yang lebih intensif maka tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun seperti mengenal agama, membiasakan diri beribadah, memahami perilaku mulia, baik dan buruk, serta mengenal ritual dan hari besar agama dapat dicapai dengan baik. Tetapi bagaimana dalam hal menghormati agama orang lain?
Pada umumnya anak yang biasa dengan lingkungan yang homogen akan sulit untuk menerima suatu perbadaan yang ada di masyarakat yang memiliki keanekaragaman. Anak akan menganggap bahwa semua orang itu sama. Agama yang dianut semua orang itu sama, jadi cara beribadah pun juga sama. Anak akan cenderung memfonis sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan guru atau orang tua adalah salah. Sesuatu dianggap benar jika sesuai dengan pelajaran apa yang telah anak peroleh.
Indonesia sendiri merupakan negara kesatuan dengan berbagai macam suku, ras, dan agama. Dalam satu agama pun masih terbagi dalam berbagai macam kelompok/aliran. Hal ini tentunya akan membingungkan bagi anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang homogen. Misalnya saja, anak hidup dalam lingkungan yang menganut agama yang sama. Setelah sekolah pun orang tua memasukkannya ke dalam sekolah dengan basis agama yang sama. Maka anak hanya akan mengenal satu agama yang dianutnya saja. Untuk itu, anak perlu disiapkan agar dapat hidup dalam lingkungan yang heterogen.
Hidup dalam keanekaragaman tidaklah mudah. Kepentingan, adat istiadat, atau kebudayaan antara individu dengan individu lain atau suatu kelompok dengan kelompok yang lain tidak bisa disamaratakan. Setiap individu atau kelompok memiliki cara masing-masing dalam hal berperilaku maupun beribadah. Sehingga untuk dapat hidup secara harmonis perlu adanya sikap toleransi antar anggota masyarakat.
Sikap toleransi seharusnya ditanamkan kepada anak sejak dini. Anak yang terbiasa bertoleransi sejak dini akan lebih mudah untuk beradaptasi dalam lingkungan yang heterogen. Untuk mengajarkan toleransi terhadap agama lain dapat dilakukan dengan mengenalkan agama yang dianut kepada anak. Mengenalkan Tuhan, menjelaskan ritual ibadah dan hari besar. Menjelaskan symbol-simbol atau benda-benda yang berhubungan dengan agama yang dianut. Serta hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjelaskan kepada anak bahwa di dunia ini terdapat beberapa agama, yang mana tiap-tiap umatnya akan menggunakan cara yang berbeda-beda dalam menyebut nama Tuhan dan melaksanakan ibadah. Tempat, ritual, kebiasaan, dan symbol-simbolnya pun berbeda-beda antara agama satu dengan yang lain.
Mengenalkan dan mengajarkan agama sendiri memang lebih mudah daripada mengenalkan agama orang lain. Memperkenalkan Tuhan, agama beserta ritual ibadah dan berbagai hal tentang agama yang dianut akan memudahkan anak untuk membedakan agamanya dengan agama lain. Misalnya, sebagai orang Islam perlu mengajarkan bahwa Tuhan itu disebut dengan sebutan Allah, tempat untuk ibadah bernama masjid, kitab yang dipelajari adalah kitab Al-Quran, ibadah wajib yang dilakukan setiap harinya adalah shalat, mengajarkan rukun islam, hari-hari besar, dan hal-hal yang berkaitan dengan agama islam. Begitu juga dengan agama-agama lain seperti Nasrani. Sebagai seorang Nasrani, perlu mengajarkan anaknya bahwa Tuhannya disebut dengan sebutan Yesus, tempat ibadahnya bernama gereja, kitabnya Injil dan sebagainya. Untuk Agama yang lain pun juga sama, sehingga dengan mengenal agama yang dianut, anak akan lebih mudah membedakan mana yang boleh dia lakuka ketika berada dalam lingkungan yang berbeda (heterogen) sehingga tidak menyimpang dari ajarannya.
Sedangkan untuk mengenalkan agama lain, selain dengan menjelaskan bahwa terdapat banyak agama yang dianut dalam masyarakat, anak perlu dikenalkan dengan cara yang lebih konkrit. Misalnya ketika melewati tempat ibadah agama lain, anak diberi tahu bahwa itu tempat ibadah agama lain yang bentuk bangunannya berbeda dengan tempat ibadah agamanya karena setiap agama memiliki symbol masing-masing. Disitu juga perlu dijelaskan, karena tiap agama memiliki cara beribadah yang berbeda-beda maka anak tidak boleh menyalahkan atau  mengolok anak lain atau orang dewasa yang tidak melakukan ibadah seperti dirinya. Anak diajarkan untuk tetap menghormati dan tidak mengganggu orang lain meski berbeda agama.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak anak untuk tetap menjaga hubungan baik dengan umat agama lain. Misalnya saja mengajak anak dalam suatu acara yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai macam agama. Disana akan diajarkan bagaimana bertoleransi kepada orang lain. Seperti mempersilahkan orang lain untuk melaksanakan ibadah. Ketika ada yang berpuasa, anak diajarkan untuk tidak makan dilingkungan orang yang berpuasa. Cara lain yang bisa diajarkan adalah ketika membantu orang yang sedang kesusahan tidak boleh membeda-bedakan agamanya. Misalnya terjadi bencana alam di suatu daerah. Anak diajak untuk memberikan bantuan kepada korban bencana. Dalam memberikan bantuan tidak membedakan korban. Meskipun berbeda agama, orang lain yang mengalami kesusahan wajib diberi bantuan.
Menanamkan sikap toleransi kepada anak usia dini akan mengembangkan aspek pencapaian perkembangan menghormati agama orang lain. Hal ini akan mempermudah anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta membantu anak berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan masyarakat yang heterogen, khususnya bertoleransi dengan umat agama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar