Hallo! Apa kabar sobat :) Ehem, ngomong-ngomang soal puisi nih, dari dulu ana suka banget nulis puisi.
Tapi sayangnya, puisi-puisi itu nggak ada yang kearsip. Ada beberapa sih yang
masih, tapi itu ada diperpus SMA. Masa iya, harus ke sana dulu kalau mau baca. Hee
Selain
itu, ana juga pengen kalau suatu saat karya ana bisa ditampilkan dalam sebuah
acara agar orang lain bisa mengapresiasinya. Mau baik atau buruk sekalipun
bakalan ana terima deh, dengan begitukan ana bisa tau apa kekurangannya. Akhirnya
nih sob, meski di sebuah acara kecil, salah satu puisi ana ditampilkan. Jengjeng…
Seneng banget rasanya. Yah, mungkin bagi orang lain itu bukan hal istimewa ya,
tapi buat ana itu adalah hal yang membanggakan (hee, bukan maksud
membangga-banggakan diri lho). Salah satu karya ana itu berjudul “Darah Juang”.
Tapi, karya ini sebenarnya bukan karya murni ana sih, hehehe. Sesuai dengan
judulnya, puisi ini ana tulis terinspirasi dari lagu “Darah Juang” karya John Tobing.
Saat
di panggung puisi ini dibacakan dengan penuh ekspresif oleh salah seorang senior
ana di Organisasi Karang Taruna. Diiringi backsound yang sesuai (sayangnya lupa
apa judulnya), dan juga penjiwaan yang sangat bagus benar-benar membuat ana
terharu. Dari situ ana jadi semakin termotivasi untuk mengembangkan hobby ana
dalam menulis puisi. Yah itung-itung buat koleksi pribadi, hemm.
Nah, ini dia puisi ana...
Darah Juang
Di sini negeri
kami, negeri yang kaya bijak bestari
Padi, hutan yang
menghijau, terhampar luas bak permadani
Di sini negeri
kami, negeri yang kaya akan hasil bumi
Laut biru,
samudra yang luas, dan hamburan ikan-ikan
Negeri kami
subur Tuhan
Kami hidup dalam
kemakmuran
Namun apa daya,
tatkala orang-orang putih mengoyak jiwa dan raga
Berjuta-juta
rakyat bersimpah luka
Negara dijajah,
rakyat disiksa
Anak-anak buruh
tak sekolah
Pemuda desa
tiada bekerja
Mereka dirampas
hak-haknya, dipaksa untuk bekerja
Diperas
keringat, jiwa dan raga
Digusur, tiada
tempat yang layak,
tiada harta tuk
hapus lapar dan dahaga
Sungguh, sesak
penuhi rongga dada
Meski atma menjerit,
tiada daya tuk melawan semua
Berabad-abad
dalam belenggu derita
Akhirnya para
pemuda Indonesia, kobarkan api membara
dalam dada
Tumpas mereka….
Tumpas mereka
yang tlah menjajah negeri kita
Negara Indonesia
tercinta
Dengan semangat juang
empat lima
Dengan
menjunjung tinggi panji-panji bangsa
Akhirnya
proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia
Dapat mencapai
puncaknya
Tujuh belas
agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima
Merdeka…..
Bangsa ini
dengan bangga teriakkan
Merdeka……
Merdeka….
Merdeka
indonesia raya….
Merdeka Indonesia
tercinta……
Merdeka
Indonesia jaya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar