Sabtu, 30 November 2013

Darah Juang



Hallo! Apa kabar sobat :)  Ehem, ngomong-ngomang soal puisi nih, dari dulu ana suka banget nulis puisi. Tapi sayangnya, puisi-puisi itu nggak ada yang kearsip. Ada beberapa sih yang masih, tapi itu ada diperpus SMA. Masa iya, harus ke sana dulu kalau mau baca. Hee 
Selain itu, ana juga pengen kalau suatu saat karya ana bisa ditampilkan dalam sebuah acara agar orang lain bisa mengapresiasinya. Mau baik atau buruk sekalipun bakalan ana terima deh, dengan begitukan ana bisa tau apa kekurangannya. Akhirnya nih sob, meski di sebuah acara kecil, salah satu puisi ana ditampilkan. Jengjeng… Seneng banget rasanya. Yah, mungkin bagi orang lain itu bukan hal istimewa ya, tapi buat ana itu adalah hal yang membanggakan (hee, bukan maksud membangga-banggakan diri lho). Salah satu karya ana itu berjudul “Darah Juang”. Tapi, karya ini sebenarnya bukan karya murni ana sih, hehehe. Sesuai dengan judulnya, puisi ini ana tulis terinspirasi dari lagu “Darah Juang” karya John Tobing.
Saat di panggung puisi ini dibacakan dengan penuh ekspresif oleh salah seorang senior ana di Organisasi Karang Taruna. Diiringi backsound yang sesuai (sayangnya lupa apa judulnya), dan juga penjiwaan yang sangat bagus benar-benar membuat ana terharu. Dari situ ana jadi semakin termotivasi untuk mengembangkan hobby ana dalam menulis puisi. Yah itung-itung buat koleksi pribadi, hemm. Nah, ini dia puisi ana...

Darah Juang

Di sini negeri kami, negeri yang kaya bijak bestari
Padi, hutan yang menghijau, terhampar luas bak permadani
Di sini negeri kami, negeri  yang kaya akan hasil bumi
Laut biru, samudra yang luas, dan hamburan ikan-ikan
Negeri kami subur Tuhan
Kami hidup dalam kemakmuran

Namun apa daya, tatkala orang-orang putih mengoyak jiwa dan raga
Berjuta-juta rakyat bersimpah luka
Negara dijajah, rakyat disiksa
Anak-anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tiada bekerja
Mereka dirampas hak-haknya, dipaksa untuk bekerja
Diperas keringat, jiwa dan raga
Digusur, tiada tempat yang layak,
tiada harta tuk hapus lapar dan dahaga
Sungguh, sesak penuhi rongga dada
Meski atma menjerit, tiada daya tuk melawan semua

Berabad-abad dalam belenggu derita
Akhirnya para pemuda Indonesia,  kobarkan api membara dalam dada
Tumpas mereka….
Tumpas mereka yang tlah menjajah negeri kita
Negara Indonesia tercinta

Dengan semangat juang empat lima
Dengan menjunjung tinggi panji-panji bangsa
Akhirnya proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia
Dapat mencapai puncaknya
Tujuh belas agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima
Merdeka…..
Bangsa ini dengan bangga teriakkan
Merdeka……
Merdeka….
Merdeka indonesia raya….
Merdeka Indonesia tercinta……
Merdeka Indonesia jaya….
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar