Minggu, 23 Februari 2014

Cerita sore ini


Selamat sore teman-teman... Saya akan berbagi cerita nih. Ketika saya membuka-buka kembali buku-buku yang telah tetumpuk dalam kardus di pojok kamar, saya menemukan secarik kertas dengan tulisan pensil yang sudah mulai memudar. Kemudian saya pun membaca tulisan itu.
Saya jadi teringat dengan dengan suasana di RA Hidayatul Qur'an. Tempat dimana saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Ketika saya sedang galau karena telah melepaskan suatu kesempatan yang bagus yang akhirnya membuat saya menyesal dan galau, tempat itu telah mampu membuat obat yang sangat mujarab. Saya sangat berterima kasih dengan semua pihak yang telah mengijinkan saya untuk belajar di sana.
Di tempat itu, saya belajar bahwa "melakukan sesuatu hal dengan niat beribadah itu akan menjadikan hidup kita lebih bahagia". Saya sangat salut dengan guru-guru yang dengan sabar dan penuh cinta kasih mendidik anak-anak. Guru-guru di RA itu sangat terbuka dengan orang-orang baru termasuk saya sendiri. Meski saya baru lulus dari SMA dan belum punya pengalaman dengan anak-anak, yah karena pada awalnya saya memang sangat sulit untuk berinteraksi dengan anak-anak, beliau-beliau dengan ramah dan rendah hati menerima keberadaan saya di tempat itu. jujur, sebenarnya saya sendiri merasa minder kala itu.
Dengan kemampuan dan pengalaman saya yang sangat terbatas, saya pun akhirnya mengukuhkan niat untuk belajar di situ. Yang paling membuat saya minder kala itu karena saya memang sangat dangkal dalam pengetahuan agama. Namun yang membuat saya bahagia, saya di ijinkan untuk belajar mengaji bahkan di bimbing langsung oleh pengasuh pondok tersebut. Saya sangat senang, meski awalnya saya takut karena memang saya bukan dari anak-anak yang taat beribadah kala itu. Yah, pokoknya dari 6 bulan saya belajar di sana, saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Di sana saya merasa punya keluarga baru. Banyak cerita suka maupun duka yang butuh waktu berbulan-bulan untuk menceritakannya, hee. Intinya saya sangat merasa beruntung pernah berada di sana, dan sampai sekarang pun sangat berharap kelak dapat kembali belajar di sana. Seperti inilah isi tulisan dalam secarik kertas yang saya temukan, yang dulu pernah saya tulis dalam diam.


18-07-2012
Mendung... 
Siang yang cukup terasa dingin.
Langit gelap tampak murung.
Syamsy pun enggan menyapa, bersembunyi dalam kabut yang bergulung.
Sendiri, dalam ruang yang tlah sepi, ruang yang akhir-akhir ini ku singgahi.
Sedih sejenak menyerbu kala waktu datang memaksaku, tuk tinggalkan dunia baruku, dunia penuh cinta kasih dan sarat ilmu, demi obsesi masa depan yang menunggu. 
Riang, canda tawa anak-anak itu masih terngiang di etlingaku. 
Rengek dan tangis yang merajuk, memberi warna baru dalam hidupku. 
Memory itu tak kan pernah hilang sampai nanti ku bisa kmbli dan mulai merenda bait-bait kenangan manis. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayatNYA yang suci dengan lagu yang indah, suara nan merdu membuat pendengar bergetar dalam kalbu. 
Dalam hati ku bertanya, suara siapa itu? 
Semakin aku ingin bahagiaku di sini, sesak smakin penuhi dadaku. 
Selamat tinggal para seniorku, berharap ku bisa kembali dengan aku yang baru. 
Maaf atas salah yang tlah lalu. 
Terima kasih atas bimbingan dan doamu. 
Aku menyayangimu...

 

Begitulah tulisan yang saya buat, entah puisi atau hanya goresan pensil cermin perasaan kala itu. tulisan yang saya buat untuk beliau-beliau yang istimewa "Bu Asmunah, Bu Indah, Bu Linggar, Bu Siti, Bu Nur, Bu Eni, Bu Marsini, Pak Udin, Pak Wi, serta beliau-beliau keluarga PPHQ" :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar