Selamat sore teman-teman... Saya akan berbagi cerita nih.
Ketika saya membuka-buka kembali buku-buku yang telah tetumpuk dalam kardus di
pojok kamar, saya menemukan secarik kertas dengan tulisan pensil yang sudah
mulai memudar. Kemudian saya pun membaca tulisan itu.
Saya jadi teringat dengan dengan suasana di RA Hidayatul
Qur'an. Tempat dimana saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Ketika saya
sedang galau karena telah melepaskan suatu kesempatan yang bagus yang akhirnya
membuat saya menyesal dan galau, tempat itu telah mampu membuat obat yang
sangat mujarab. Saya sangat berterima kasih dengan semua pihak yang telah
mengijinkan saya untuk belajar di sana.
Di tempat itu, saya belajar bahwa "melakukan sesuatu
hal dengan niat beribadah itu akan menjadikan hidup kita lebih bahagia".
Saya sangat salut dengan guru-guru yang dengan sabar dan penuh cinta kasih
mendidik anak-anak. Guru-guru di RA itu sangat terbuka dengan orang-orang baru
termasuk saya sendiri. Meski saya baru lulus dari SMA dan belum punya
pengalaman dengan anak-anak, yah karena pada awalnya saya memang sangat sulit
untuk berinteraksi dengan anak-anak, beliau-beliau dengan ramah dan rendah hati
menerima keberadaan saya di tempat itu. jujur, sebenarnya saya sendiri merasa
minder kala itu.
Dengan kemampuan dan pengalaman saya yang sangat terbatas,
saya pun akhirnya mengukuhkan niat untuk belajar di situ. Yang paling membuat
saya minder kala itu karena saya memang sangat dangkal dalam pengetahuan agama.
Namun yang membuat saya bahagia, saya di ijinkan untuk belajar mengaji bahkan
di bimbing langsung oleh pengasuh pondok tersebut. Saya sangat senang, meski
awalnya saya takut karena memang saya bukan dari anak-anak yang taat beribadah
kala itu. Yah, pokoknya dari 6 bulan saya belajar di sana, saya mendapatkan
ilmu yang sangat berharga yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Di sana
saya merasa punya keluarga baru. Banyak cerita suka maupun duka yang butuh
waktu berbulan-bulan untuk menceritakannya, hee. Intinya saya sangat merasa
beruntung pernah berada di sana, dan sampai sekarang pun sangat berharap kelak
dapat kembali belajar di sana. Seperti inilah isi tulisan dalam secarik kertas
yang saya temukan, yang dulu pernah saya tulis dalam diam.
18-07-2012
Mendung...
Siang yang cukup terasa dingin.
Langit gelap tampak murung.
Syamsy pun enggan menyapa, bersembunyi dalam
kabut yang bergulung.
Sendiri, dalam ruang yang tlah sepi, ruang yang
akhir-akhir ini ku singgahi.
Sedih sejenak menyerbu kala waktu datang
memaksaku, tuk tinggalkan dunia baruku, dunia penuh cinta kasih dan sarat
ilmu, demi obsesi masa depan yang menunggu.
Riang, canda tawa anak-anak itu masih terngiang
di etlingaku.
Rengek dan tangis yang merajuk, memberi warna
baru dalam hidupku.
Memory itu tak kan pernah hilang sampai nanti
ku bisa kmbli dan mulai merenda bait-bait kenangan manis. Sayup-sayup
terdengar lantunan ayat-ayatNYA yang suci dengan lagu yang indah, suara nan
merdu membuat pendengar bergetar dalam kalbu.
Dalam hati ku bertanya, suara siapa itu?
Semakin aku ingin bahagiaku di sini, sesak
smakin penuhi dadaku.
Selamat tinggal para seniorku, berharap ku bisa
kembali dengan aku yang baru.
Maaf atas salah yang tlah lalu.
Terima kasih atas bimbingan dan doamu.
Aku menyayangimu...
|
Begitulah tulisan yang saya buat, entah puisi atau hanya
goresan pensil cermin perasaan kala itu. tulisan yang saya buat untuk
beliau-beliau yang istimewa "Bu Asmunah, Bu Indah, Bu Linggar, Bu Siti, Bu
Nur, Bu Eni, Bu Marsini, Pak Udin, Pak Wi, serta beliau-beliau keluarga
PPHQ" :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar