Pemulung.
Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata pemulung? Pasti sebagian
dari teman-teman akan mengatakan
pemulung itu dekil, kotor, bau, berantakan, dan pekerjaan hina. Tapi tidak
menurut saya. Saya pikir pemulung bukan sebagai profesi yang hina. Berprofesi
sebagai pemulung pun menurut saya sah-sah saja. Dari pada hanya menengadahkan
tangan dengan meminta-minta kepada orang lain tanpa melakukan suatu usaha,
apalagi sampai mencuri untuk mendapatkan uang. Meminta-minta dan mencuri pun
sebenarnya juga perlu usaha. Tetapi alangkah lebih mulia jika kita berusaha
dengan kemampuan yang memang kita miliki untuk mendapatkan rezeki yang halal.
Karena sesungguhnya Allah telah mengatur rezeki bagi setiap umatnya, meski
rezeki itu diperoleh dengan berprofesi sebagai pemulung.
Kurang
lebih satu tahun yang lalu, santer
terdengar kabar tentang seorang pemulung ganteng asal Kota Bekasi. Wahyudin, pemuda yang akrap
dipanggil Wahyu itu telah menjadi pemulung sejak duduk di kelas IV SD. Bahkan
sepuluh tahun kemudian, pekerjaannya menjadi pemulung telah membawanya hampir
menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi di
Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Hal
senada juga dialami oleh Ming Ming Sari Nurhayati. Ming Ming bekerja sebagai
pemulung bersama ayah, ibu, dan adik-adiknya. Dengan menjadi pemulung, muslimah
kelahiran 90 ini dapat mengenyam pendidikan tinggi. Yaitu kuliah di Universitas
Pamulangan, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1. Bahkan, Ming Ming ingin
sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi bisnis daur ulang.
Sekiranya masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif tentang seseorang yang
mengubah hiupnya dengan bekerja sebagai pemulung.
Berbicara
soal memulung, saya pun juga pernah mengalaminya. Saya mulung bersama
teman-teman pemuda di desa saya. Pada awalnya saya merasa gimana gitu, tapi ternyata
lama-lama seru juga. Mendorong gerobak dan menjinjing karung keliling kampung.
Terkadang ada juga yang berteriak menirukan pembeli barang bekas dengan seruan
“Rongsokane Bu….”.
Kegitan
mulung berjama’ah itu awalnya merupakan proker dari salah satu mahasiswa UII
yang KKN di desa kami. Kami para pemuda diajak untuk mulung bersama-sama. Awalnya,
pemuda melakukan sosialisasi program mulung ini kepada masyarakat di RW kami.
Warga diminta kesukarelaannya untuk mengumpulkan barang-barang bekas seperti
botol kaca, botol plastic, gelas plastic, besi, kardus, kertas, dan
barang-barang yang sudah tidak terpakai, nantinya para pemuda akan berkeliling
untuk mengambil barang-barang tersebut. Karena kami memang belum bisa mengolah
limbah rumah tangga atau yang dalam bahasa kami sering disebut rongsok
tersebut, oleh karenanya kami juga diberi tahu dimana kami harus menjual hasil
memulung tersebut. Uang hasil penjualannya pun dimanfaatkan untuk kepentingan
bersama. Misalnya untuk membeli bolam, kabel, atau melengkapi inventaris pemuda.
Selain itu kalau misal ada event-event seperti Halal Bihalal, HUT RI, dan
sebagainya juga bisa mengambil dari uang tersebut.
Gambar
di atas di ambil oleh teman saya, Bang Roni saat kami sedang beristirahat. Selesai
berkeliling mengambil barang-barang rongsok door
to door, kami mengumpulkannya di
salah satu tempat. Setelah beristirahat sebentar, kami mulai menyortir
barang-barang itu. Kami memilah-milah sesuai dengan jenis barang. Setelah
dikemas dalam sak, barang-barang rongsok pun dikirim ke pasar loak. Sedangkan,
barang-barang yang tidak bisa dijual dimusnahkan dengan cara dibakar.
Kegiatan
mulung bareng ini sudah berlangsung
sejak dua tahun yang lalu. Kami sangat berterima kasih kepada warga yang telah
berpartisipasi. Bahkan dari ibu-ibu dengan suka rela memberi kami jamuan tiap
kegiatan mulung. Kegiatan yang juga tak luput dari kritik sebagian pihak ini
ternyata telah memberi manfaat bagi kami. Selain menjaga kebersihan lingkungan,
kegiatan mulung juga bisa menjadi sumber dana tambahan.
Dari pada barang bekas memenuhi rumah atau mengotorin lingkungan lebih baik dijual
untuk keperluan bersama. Tetapi lebih baik lagi jika kita bisa mengolahnya menjadi
barang yang lebih bernilai lagi.
Sumber:
Chasani,Ichwan.2013.Kisah Pemulung Menggapai Sarjana.Tribun Jakarta. diakses pd tgl 5
Maret 2014 darihttp://m.tribunnews.com/metropolitan/2013/
03/03/kisah-pemulung-menggapai-sarjana
Dje
Agon,Jajank.2013.Kisah Mahasiswi
Berjilbab/Akhwat yang Jadi Pemulung.diakses pada tanggal 5 Maret 2014 dari http://www.google.com/gwt/
x?hl=cn&u=http://site/jajankk/kisah-mahasiswa-berjilbab&q=mahasiswa+pemu
lung&sa=X2ei

Tidak ada komentar:
Posting Komentar