Rabu, 05 Maret 2014

Mulung Bareng


Pemulung. Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata pemulung? Pasti sebagian dari  teman-teman akan mengatakan pemulung itu dekil, kotor, bau, berantakan, dan pekerjaan hina. Tapi tidak menurut saya. Saya pikir pemulung bukan sebagai profesi yang hina. Berprofesi sebagai pemulung pun menurut saya sah-sah saja. Dari pada hanya menengadahkan tangan dengan meminta-minta kepada orang lain tanpa melakukan suatu usaha, apalagi sampai mencuri untuk mendapatkan uang. Meminta-minta dan mencuri pun sebenarnya juga perlu usaha. Tetapi alangkah lebih mulia jika kita berusaha dengan kemampuan yang memang kita miliki untuk mendapatkan rezeki yang halal. Karena sesungguhnya Allah telah mengatur rezeki bagi setiap umatnya, meski rezeki itu diperoleh dengan berprofesi sebagai pemulung.
Kurang lebih satu tahun  yang lalu, santer terdengar kabar tentang seorang pemulung ganteng asal  Kota Bekasi. Wahyudin, pemuda yang akrap dipanggil Wahyu itu telah menjadi pemulung sejak duduk di kelas IV SD. Bahkan sepuluh tahun kemudian, pekerjaannya menjadi pemulung telah membawanya hampir menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Hal senada juga dialami oleh Ming Ming Sari Nurhayati. Ming Ming bekerja sebagai pemulung bersama ayah, ibu, dan adik-adiknya. Dengan menjadi pemulung, muslimah kelahiran 90 ini dapat mengenyam pendidikan tinggi. Yaitu kuliah di Universitas Pamulangan, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1. Bahkan, Ming Ming ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi bisnis daur ulang. Sekiranya masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif tentang seseorang yang mengubah hiupnya dengan bekerja sebagai pemulung.
Berbicara soal memulung, saya pun juga pernah mengalaminya. Saya mulung bersama teman-teman pemuda di desa saya. Pada awalnya saya merasa gimana gitu, tapi ternyata lama-lama seru juga. Mendorong gerobak dan menjinjing karung keliling kampung. Terkadang ada juga yang berteriak menirukan pembeli barang bekas dengan seruan “Rongsokane Bu….”.
Kegitan mulung berjama’ah itu awalnya merupakan proker dari salah satu mahasiswa UII yang KKN di desa kami. Kami para pemuda diajak untuk mulung bersama-sama. Awalnya, pemuda melakukan sosialisasi program mulung ini kepada masyarakat di RW kami. Warga diminta kesukarelaannya untuk mengumpulkan barang-barang bekas seperti botol kaca, botol plastic, gelas plastic, besi, kardus, kertas, dan barang-barang yang sudah tidak terpakai, nantinya para pemuda akan berkeliling untuk mengambil barang-barang tersebut. Karena kami memang belum bisa mengolah limbah rumah tangga atau yang dalam bahasa kami sering disebut rongsok tersebut, oleh karenanya kami juga diberi tahu dimana kami harus menjual hasil memulung tersebut. Uang hasil penjualannya pun dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Misalnya untuk membeli bolam, kabel, atau melengkapi inventaris pemuda. Selain itu kalau misal ada event-event seperti Halal Bihalal, HUT RI, dan sebagainya juga bisa mengambil dari uang tersebut.
Gambar di atas di ambil oleh teman saya, Bang Roni saat kami sedang beristirahat. Selesai berkeliling mengambil barang-barang rongsok door to door, kami mengumpulkannya  di salah satu tempat. Setelah beristirahat sebentar, kami mulai menyortir barang-barang itu. Kami memilah-milah sesuai dengan jenis barang. Setelah dikemas dalam sak, barang-barang rongsok pun dikirim ke pasar loak. Sedangkan, barang-barang yang tidak bisa dijual dimusnahkan dengan cara dibakar.
Kegiatan mulung bareng ini sudah berlangsung sejak dua tahun yang lalu. Kami sangat berterima kasih kepada warga yang telah berpartisipasi. Bahkan dari ibu-ibu dengan suka rela memberi kami jamuan tiap kegiatan mulung. Kegiatan yang juga tak luput dari kritik sebagian pihak ini ternyata telah memberi manfaat bagi kami. Selain menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan mulung  juga bisa menjadi sumber dana tambahan. Dari pada barang bekas memenuhi rumah atau mengotorin lingkungan lebih baik dijual untuk keperluan bersama. Tetapi lebih baik lagi jika kita bisa mengolahnya menjadi barang yang lebih bernilai lagi.


Sumber:
 Chasani,Ichwan.2013.Kisah Pemulung Menggapai Sarjana.Tribun Jakarta. diakses pd tgl 5 Maret 2014 darihttp://m.tribunnews.com/metropolitan/2013/ 03/03/kisah-pemulung-menggapai-sarjana
Dje Agon,Jajank.2013.Kisah Mahasiswi Berjilbab/Akhwat yang Jadi Pemulung.diakses pada tanggal 5 Maret 2014 dari http://www.google.com/gwt/ x?hl=cn&u=http://site/jajankk/kisah-mahasiswa-berjilbab&q=mahasiswa+pemu lung&sa=X2ei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar